Tag: Komandan Pasukan Quds

  • Ketua PBNU Minta Presiden RI Bantu Redam Konflik AS-Iran

    Ketua PBNU Minta Presiden RI Bantu Redam Konflik AS-Iran

    TIKTAK.ID – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj meminta pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) membantu meredam dan mendamaikan konflik Iran dan Amerika Serikat (AS). Said Aqil mengatakan Indonesia harus berbuat sesuatu agar perang dihentikan.

    “Saya minta Pemerintah, Presiden berbuat sesuatu untuk mendinginkan konflik Iran dengan AS,” ujar Said Aqil di Kantor PGI, Jakarta Pusat, dilansir Merdeka.com, Sabtu (11/1/20).

    Baca juga: Selain Diotaki AS, Analis Independen Bongkar Benang Merah Keterlibatan Israel dalam Pembunuhan Qassem Soleimani

    Setelah hubungan Iran dan AS dalam sepekan terakhir memanas, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi melakukan beberapa hal untuk melindungi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Iran. Pihaknya, kata dia, telah mengaktifkan crisis center untuk para WNI.

    “Kita juga mengeluarkan imbauan kepada WNI, jika sewaktu-waktu memerlukan bantuan jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi hotline yang ada. Selain itu kita juga sudah mengaktifkan Crisis Center,” ucap Retno di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (9/10/20).

    Retno menyebut crisis center tersebut merupakan langkah antisipatif untuk para WNI yang ada di Iran. Ia menyatakan dari data terlihat ada 400 WNI di wilayah tersebut.

    Baca juga: 6 Fakta Di Balik Pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani yang Tidak Diungkap Media

    Halaman selanjutnya…

  • Selain Diotaki AS, Analis Independen Bongkar Benang Merah Keterlibatan Israel dalam Pembunuhan Qassem Soleimani

    Selain Diotaki AS, Analis Independen Bongkar Benang Merah Keterlibatan Israel dalam Pembunuhan Qassem Soleimani

    TIKTAK.ID – Selain pengakuan langsung Washington pasca kejadian, fakta bahwa pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani diotaki Amerika Serikat, sudah banyak diungkap ke publik.

    Namun berkenaan dengan respons tegas Iran pasca serangan yang menyatakan tak mengecualikan keterlibatan Israel dalam konspirasi keji pembunuhan terhadap Komandan Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam Iran tersebut, pada awalnya masih belum benar-benar dipahami oleh banyak pihak.

    Hingga akhirnya muncul analisa yang disampaikan Federico Piaracinni dari The Strategic Culture Foundation, sekaligus analis independen tentang geopolitik, yang menulis di situs The Duran, Kamis (9/1/20), bahwa sebab pembunuhan Qassem Soleimani menurutnya jauh lebih pelik dari yang dibayangkan orang.

    Baca juga: 6 Fakta Di Balik Pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani yang Tidak Diungkap Media

    Peristiwa itu termasuk klimaks ketegangan antara Trump dan PM Irak Adel Abdul Mahdi. Juga bahwa spektrum peristiwanya menyangkut kepentingan besar China, Saudi Arabia, dan juga Qatar. Tak terkecuali dan utamanya, duet sekutu abadi Amerika dan Israel.

    Kasusnya juga menyangkut bisnis migas Timur Tengah, pemenuhan infrastruktur dan kelistrikan di Irak, serta masa depan dolar AS sebagai alat transaksi dagang internasional.

    Kok bisa? Begini konstruksi ceritanya menurut Pieracinni.

    Kisah gelap ini sesungguhnya sebagian kecil sudah dibuka Adel Mahdi lewat serangkaian pernyataannya di televisi setelah Soleimani terbunuh, dan lebih detil lagi diungkapkannya di parlemen Irak. Meski usahanya membuka rahasia ini, dihalang-halangi AS lewat Ketua DPR Irak, Mohammad al-Halboussi, tokoh berlatar Sunni, dan punya loyalis cukup kuat. Gedung Putih menggunakan golongan ini untuk menekan Adel Abdul Mahdi.

    Baca juga: Bunuh Jenderal Soleimani, Muhammadiyah: Amerika Negara Teroris

    Lantas kenapa Abdul Mahdi yang digencet?

    Trump dan Abdul Mahdi selama berminggu-minggu ternyata terlibat pembicaraan sangat serius. Aksi demonstrasi besar di Irak akhir tahun lalu, tak lepas dari masalah ini.

    AS memang ada di balik gerakan mendelegitimasi pemerintahan Abdul Mahdi dengan isu korupsi. Persis seperti pola gerakan massa yang digunakan di Mesir 2009, Libya 2011, Maidan 2014.

    Irak di tengah gejolak ini ternyata sedang bernegosiasi dengan China terkait proyek kelistrikan.

    Dalam usaha membuka kedok hitam ini di parlemen dan kepada publik, Halboussi benar-benar berusaha mematahkannya. Tapi Mahdi berusaha keras menyuarakan usaha Amerika untuk membuat Irak kembali hancur. Bahwa Washington ingkar janji terkait proyek pemulihan infrastruktur dan kelistrikan Irak, dan meminta bagian 50 persen pendapatan sektor minyak Irak, tapi Abdul Mahdi menolaknya. Karena itulah Abdul Mahdi berpaling ke China, meneken perjanjian proyek konstruksi.

    Baca juga: BREAKING NEWS: IRGC Menghujani Pangkalan Udara AS di Irak dengan Rudal Sebagai Balasan Atas Pembunuhan Jenderal Soleimani

    Halaman selanjutnya…