Tag: Katarsis

  • Jadi Psikopat di Serial ‘Katarsis’, Pevita Pearce: Super Fun

    Jadi Psikopat di Serial ‘Katarsis’, Pevita Pearce: Super Fun

    TIKTAK.ID – Artis Pevita Pearce tampaknya ingin memberikan warna baru untuk perannya di dunia akting. Kali ini perempuan berusia 30 tahun ini berperan sebagai psikopat bernama Tara dalam serial “Katarsis”.

    “Katarsis” adalah series original Vidio besutan sutradara Randolph Zaini yang bercerita mengenai gadis muda bernama Tara dengan masa lalu kelam. Masa lalu itu pun membuat Tara menjadi seorang psikopat.

    Pevita Pearce sendiri mengeklaim sangat menyukai genre series berhubungan dengan kejiwaan. Untuk itu, dia mengatakan begitu menikmati perannya di series tersebut.

    “Yes, aku pribadi suka sekali psychological thriller dan aku memerankan Tara super fun,” ungkap Pevita di kawasan Senayan Jakarta Pusat, pada Senin (13/2/23), seperti dilansir Okezone.com.

    Pevita mengakui bahwa karakter Tara ini memang menyeramkan. Akan tetapi, bintang film “Sri Asih” itu menilai setiap manusia pasti punya sisi seram dalam dirinya masing-masing.

    “Karena melihat Tara pasti seram kan, sama seperti dalam kehidupan sehari-hari kita yang juga memiliki sisi seram,” terang Pevita.

    ‘Katarsis” hadir dengan genre dark comedy thriller, sehingga akan menampilkan banyak adegan berdarah. Menyikapi hal itu, bukannya takut, Pevita juga merasa itu lucu. Sebab, kata Pevita, walaupun memperlihatkan adegan bunuh-bunuhan, tapi Randolph Zaini juga memasukkan unsur komedi di dalamnya.

    “Genrenya itu sudah cukup unik ya. Dark comedy thriller, dan aku belum pernah lihat, berdarah-darah tapi cute,” terang Pevita.

    “Dan secara story telling-nya, karakterisasinya, pemainnya, dan juga visualisasi kreatifnya itu sebuah pengalaman baru buat aku,” imbuh Pevita.

    Series “Katarsis” mengisahkan Tara (Pevita Pearce), yakni seorang wanita muda yang menjadi satu-satunya saksi dalam aksi pembantaian sadis kedua orangtua angkatnya. Tara berusaha keluar dari rasa traumanya dengan bantuan psikolog, tapi seiring berjalannya waktu, ada rahasia besar yang disembunyikan dalam diri perempuan yang tampak lugu tersebut.

    Selain Pevita Pearce, “Katarsis” juga dibintangi oleh Slamet Rahardjo, Bront Palarae, Sigi Wimala, Prisia Nasution, Teuku Rifnu Wikana, Ratu Felisha, Shareefa Daanish, serta Kiki Narendra. Serial ini dijadwalkan tayang setiap Kamis mulai 16 Februari 2023.

  • Viral Sayembara ‘Misuh’ Internasional, Begini Kata Psikolog

    Viral Sayembara ‘Misuh’ Internasional, Begini Kata Psikolog

    TIKTAK.ID – Belakangan viral di media sosial komunitas bahasa bernama Jawa Sastra mengadakan Sayembara Misuh Internasional 2020. Menanggapi hal itu, dosen Fakultas Psikologi UGM, Prof Koentjoro mengatakan misuh merupakan media mengeluarkan uneg-uneg. Menurutnya, misuh bukanlah budaya Jawa.

    “Itu (misuh) bagian dari katarsis, yakni mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam diri kita,” ujar Koentjoro, seperti dilansir detikcom, Jumat (10/7/20).

    Koentjoro pun menyebut sayembara itu bisa untuk media katarsis daripada sekadar ajang misuh, mengingat misuh atau mengumpat sendiri adalah hal yang bertentangan dengan norma.

    “Misuh itu kan sebenarnya sesuatu yang tidak disukai dan bertentangan dengan norma. Makanya sekarang apa masyarakat kita sudah keluar dari aturan kebajikan?” ucap Koentjoro.

    “Jadi kalau itu hanya sekadar lomba, lantas untuk apa? Tapi kalau bentuk katarsis, masih okelah,” imbuhnya.

    Koentjoro menilai, saat ini tradisi umpatan sudah bergeser. Ia menyatakan hal yang sebelumnya tabu, saat ini menjadi hal yang familiar di masyarakat. Meski begitu, ia menegaskan familiarnya hal tersebut membuat umpatan bukan lagi manjadi sebuah katarsis.

    “Misuh ini juga menurut tradisi itu bergeser. Dari yang dulunya tabu, lama-lama bisa diterima, misalnya ‘jancok’. ‘Jancok’ itu bagi orang zaman dulu udah misuh, tapi sekarang untuk orang Surabaya malah sudah jadi panggilan, ‘cok’, terus seperti gentho, ‘piye kabare tho?’ gitu,” terang Koentjoro.

    Kemudian menyoal misuh sebagai identitas budaya Jawa, Koentjoro mengaku tidak begitu setuju dengan hal itu. Sebab, kata Koentjoro, orang Jawa sejatinya dicegah untuk misuh atau mengumpat. Ia menyebut misuh akan menunjukkan kelas sosial seseorang.

    “Orang Jawa itu kalau misuh, itu misuh dalam bahasa halus (krama inggil) dan dalam Jawa dicegah untuk misuh, karena luhuring budi bukan dari misuhnya. Tapi luhuring budi itu gumantung seko lathi atau mulut,” jelasnya.

    Koentjoro mengungkapkan, ketika seseorang mengumpat, maka akan menunjukkan kelas sosialnya.

    “Ketika orang mengumpat, kelas sosialnya ketahuan. Jadi siapa yang ngumpat itu orang Jawa bisa tahu dia dari kelas sosial mana,” katanya.