Tag: Jubir Jokowi

  • Jubir Jokowi Beberkan Alasan Dibentuknya Kementerian Investasi

    Jubir Jokowi Beberkan Alasan Dibentuknya Kementerian Investasi

    TIKTAK.ID – Selama satu tahun ini, ekonomi nasional terdampak pandemi virus Corona (Covid-19). Juru Bicara (Jubir) Presiden Joko Widodo (Jokowi), Fadjroel Rachman mengungkapkan bahwa tujuan dibentuknya Kementerian Investasi sebagai salah satu upaya memulihkan ekonomi nasional.

    “Mengenai Kementerian Investasi ini adalah bagian dari upaya pemulihan ekonomi, karena satu tahun terakhir ini kita terkena Covid-19,” ujar Fadjroel dalam diskusi daring bertajuk “Jangan Pegel Nunggu Reshuffle”, Sabtu (24/4/21), seperti dilansir detik.com.

    Menurut Fadjroel, Jokowi menargetkan kenaikan pertumbuhan perekonomian sebesar 5 persen pada tahun ini. Ia menyebut Jokowi menyampaikan hal itu dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di Istana beberapa waktu lalu.

    “Beliau mengatakan target tahun ini kurang-lebih 5 persen pertumbuhan ekonomi. Meski ada beberapa lembaga yang mengatakan, apabila problem kesehatan bisa tertangani dengan baik, maka kita juga akan bisa tumbuh sampai 7 persen,” terang Fadjroel.

    “Jadi Kementerian Investasi ini terkait dengan upaya pemulihan ekonomi nasional,” imbuhnya.

    Kemudian Fadjroel menyatakan Presiden Jokowi juga telah memprioritaskan tiga hal saat pandemi Covid-19 mulai melanda Indonesia, yakni kesehatan, bantuan sosial, dan pemulihan ekonomi.

    “Saat Indonesia mengalami pandemi, Presiden sudah melakukan prioritas terhadap tiga hal. Pertama kesehatan, kedua terkait bantuan sosial, dan ketiga terkait pemulihan ekonomi nasional,” tutur Fadjroel.

    Di sisi lain, anggota Komisi I DPR RI Fadli Zon mewanti-wanti jangan sampai ada masukan yang keliru sampai ke Presiden Jokowi terkait pembentukan Kementerian Investasi. Terlebih, kata Fadli, di tengah kondisi pandemi Covid-19.

    “Jangan sampai ada masukan-masukan yang keliru ke Presiden dengan adanya Kementerian Investasi ini akan datang investasi yang besar-besaran, namun kemudian tidak datang. Apa yang diharapkan ini yang menurut saya seperti kita udah bisa memprediksi, apalagi di tengah pandemi Covid saat ini, yakin nggak sih sebenarnya kita,” tegasnya.

    Politikus Partai Gerindra tersebut pun menyinggung dibentuknya Undang-Undang Omnibus Law. Dia menganggap iklim mempermudah usaha yang tertuang dalam UU itu masih belum sesuai dengan harapan.

    “Kalkulasinya dengan adanya Omnibus Law, maka iklim ini dipermudah untuk melakukan usaha, tapi tidak terjadi seperti apa yang diharapkan. Jadi ini menurut saya harus betul-betul dipertimbangkan matang-matang,” lanjutnya.

  • Dituding Rocky Gerung Mirip Pemerintahan Orde Baru, Jubir Jokowi Jawab Begini

    Dituding Rocky Gerung Mirip Pemerintahan Orde Baru, Jubir Jokowi Jawab Begini

    TIKTAK.ID – Pengamat Politik, Rocky Gerung menganggap Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) serupa pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto.

    Rocky Gerung mengungkapkannya di hadapan Juru Bicara (Jubir) Jokowi, Fadjroel Rachman dalam acara Rosi Kompas TV di hari Kamis (11/6/20).

    Perdebatan bermula saat Fadjroel melontarkan pilihan kepada Rocky antara era Soeharto atau Jokowi.

    Baca juga : Begini Respons Ahok Usai Direksi Pertamina Disunat Erick Thohir

    “Hei Rock mana yang lebih buruk apakah Pemerintahan Anti Demokrasi Soeharto atau sekarang ini?” ujar Fadroel ke Rocky.

    Menurut Fadjroel, Rocky masih dapat mengkritik Jokowi hingga kini di hadapan umum tanpa adanya ancaman.

    Sedangkan di masa Pemerintahan Soeharto, Fadjroel sempat mengalami penahanan di Nusakambangan disebabkan kritikannya kepada Pemerintah di masa itu.

    Baca juga : Komika Bintang Emon Sindir Vonis Kasus Novel Baswedan dengan Celetukan Kocak tapi Menohok

    “Rocky masih ada di sini ketawa-ketawa dengan saya, kalau dulu bicara seperti ini kita sudah bisa masuk Nusakambangan nih,” tutur Fadjroel.

    Kemudian sang host acara, Rosi menanyakan tanggapan Rocky atas pendapat Fadjroel tersebut, benarkah Orde Baru tak jauh beda dengan masa sekarang.

    “Apa Anda mengiyakan Jokowi ini seperti Orde Baru?” tanya Rosi kepada Rocky.

    Baca juga : Desak Jokowi Ambil Langkah Bela Palestina dari Pencaplokan Israel, Fadli Zon: Ini Mandat Konstitusi

    Rocky mengamini dengan jawaban iya, dan menurutnya demokrasi ala Jokowi tak perlu jubir di dalam pemerintahannya.

    Menurut Rocky, seharusnya Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Ali Mochtar Ngabalin yang lebih diperlukan untuk muncul.

    “Kalau sudah demokratis tidak perlu ada orang kayak Fadjroel Rachman cukup Ngabalin aja mondar-mandir kan,” terang Rocky.

    Baca juga : Sepakat dengan PA 212, PKS Bakal Calonkan Kadernya Sendiri di Pilpres 2024, Siapa Kira-kira?

    Alasan Rocky dengan menyebut bukti tidak demokratis berupa demokrasi ala pemerintahan Jokowi masih membutuhkan orang yang pernah memiliki reputasi dalam demokrasi untuk jadi Jubir.

    Selanjutnya Rocky menyinggung adanya buzzer yang diperlukan untuk membela demokrasi ala Jokowi.

    “Itu simpanan psikologi begitu. Demokrasi itu tidak memerlukan influencer, tidak memerlukan buzzer,” ucap Rocky.

    Baca juga : Tak Hadiri Debat dengan Luhut, Rizal Ramli: Itu Mah Ngawur!

    Rocky memandang seharusnya Jubir dapat menyampaikan kritik ke Istana andai terjadi hal-hal yang dipandang suatu kesalahan.

    “Juru Bicara fungsinya apa. Juru Bicara adalah membela kesalahan pikiran demokrasi dari Istana,” sebut Rocky.

  • Beda Pernyataan Jubir Jokowi dan Relawan Soal Reshuffle Menteri, Sengaja atau Kurang Koordinasi?

    Beda Pernyataan Jubir Jokowi dan Relawan Soal Reshuffle Menteri, Sengaja atau Kurang Koordinasi?

    TIKTAK.ID – Juru Bicara Presiden Joko Widodo (Jokowi), Fadjroel Rachman, kembali mengklarifikasi isu reshuffle Kabinet yang dilontarkan relawan Jokowi, Dede Budhiyarto. Ia menampik adanya rencana kocok ulang Kabinet dalam waktu dekat.

    Menurut Fadjroel, Jokowi memerintahkan semua menteri untuk fokus terhadap fungsi kementeriannya masing-masing dan segera dapat beradaptasi. Ia melanjutkan, Jokowi menyampaikan hal itu ketika menjawab pertanyaan para pendukungnya dari kalangan artis, influencer, dan pegiat media sosial, di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/2/20).

    “Apa-apa perlu penyesuaian, ada yang cepat beradaptasi, ada yang tidak. Untuk itu, mohon sedikit dimaafkan dulu,” ujar Fadjroel menirukan pernyatan Jokowi, dilansir Tempo.co, Minggu (23/2/20).

    Baca juga: Sekjen Kemenag Dicopot, Diduga Karena Pernah Jabat Plt Dirjen Bimas Katolik padahal Dirinya Muslim

    Fadjroel mengungkapkan, para anggota Kabinet mesti cepat menyesuaikan diri dengan fungsi kementeriannya. Hal itu, kata Fadjroel, agar tujuan Indonesiasentris atau pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia dapat tercapai sesuai kehendak presiden.

    “Pasti saya ganti kalau terus tidak dapat beradaptasi,” tegas Jokowi.

    Senada dengan Fadjroel, Tenaga Ahli Utama KSP Donny Gahral Adian pun menampik adanya rencana reshuffle. Ia menilai para menteri baru bekerja selama 100 hari, sehingga terlalu dini untuk melakukan suatu evaluasi yang fundamental terhadap kinerja para menteri tersebut.

    Namun, ia menegaskan reshuffle Kabinet adalah hak prerogatif Jokowi selaku presiden. Meskipun menurutnya kecil kemungkinan terjadi reshuffle.

    Halaman selanjutnya…