Tag: IRGC

  • Dukung Penuh Iran, Rusia Dorong Tehran Tak Menyerah Hadapi Provokasi dan Retorika Agresif Washington

    Dukung Penuh Iran, Rusia Dorong Tehran Tak Menyerah Hadapi Provokasi dan Retorika Agresif Washington

    TIKTAK.ID – Rusia mengatakan Iran tak boleh menyerah pada “provokasi” Amerika Serikat (AS). Pernyataan ini diutarakan negara Presiden Putin mengomentari situasi kawasan Teluk yang tengah panas.

    “Jangan menyerah pada provokasi dan retorika agresif,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova kepada wartawan seperti dikutip dari AFP, Kamis (28/4/20).

    Ia pun menekankan kedua negara harus bertindak sesuai dengan norma dan peraturan internasional. Ditegaskannya Moskow menganggap stabilitas dan keamanan di Teluk adalah kunci dari situasi regional yang lebih luas.

    Baca juga: Provokatif Terobos Batas Wilayah dan Langgar Kedaulatan, Kapal Perang AS Langsung Diusir Militer China

    Sebelumnya, Presiden Iran Hassan Rouhani memperingatkan Presiden AS Donald Trump. Warning ini adalah buntut dari insiden kapal militer Iran dan kapal perang AS di Laut Teluk 15 April lalu.

    “Amerika harus tahu bahwa ini disebut Teluk Persia, bukan Teluk New York atau Teluk Washington,” katanya dalam pidato di televisi lokal.

    “Mereka harus memahami situasi dengan nama itu dan negara pesisir (Persia) yang telah melindungi jalur air ini selama ribuan tahun.”

    “Para prajurit angkatan bersenjata kita di tentara Revolusi, tentara Basij (paramiliter Iran) dan polisi akan selalu menjaga Teluk Persia.”

    Baca juga: Ini Tempat di Dunia yang Bebas Virus Corona

    Halaman selanjutnya…

  • Sambut Gertakan Trump, Jenderal Iran Ultimatum Balik ‘Siap Hancurkan AS’

    Sambut Gertakan Trump, Jenderal Iran Ultimatum Balik ‘Siap Hancurkan AS’

    TIKTAK.ID – Insiden yang terjadi antara kapal militer pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dengan kapal perang Amerika Serikat (AS) berbuntut panjang. Setelah ancaman dilontarkan Presiden AS Donald Trump, kini giliran jenderal Iran memberi ultimatum ke Negeri Paman Sam.

    “Saya telah memerintahkan pasukan Angkatan Laut kami untuk menghancurkan ‘pasukan teroris’ AS di Teluk Persia, yang mengancam keamanan kapal militer atau non militer Iran,” kata Mayor Jenderal Hossein Salami seperti dikutip Reuters, Jumat (24/4/20). “Keamanan Teluk Persia adalah bagian dari strategi prioritas Iran,” lanjutnya.

    Baca juga: Hanya Selang Beberapa Hari dari Perintah Trump Serang Kapal Iran, Awak Kapal Perang AS Malah Kembali Diserang Corona

    Ia menegaskan ancaman yang dilontarkannya benar-benar serius lantaran menyangkut keamanan nasional.

    “Kami akan menanggapi dengan tegas setiap sabotase,” ujar Salami.

    Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyarankan Trump untuk fokus menangani pandemi Covid-19 di AS. Karena seperti diketahui, Amerika mencatat kasus terbanyak di dunia hingga 878 ribu jiwa, dengan 49 ribu kematian.

    “Militer AS terhantam infeksi Covid-19 lebih dari 5.000,” kata Zarif.

    “Tentara AS seharusnya tidak memiliki urusan di wilayah yang jauhnya 7.000 mil dari rumah mereka,” sindirnya.

    Halaman selanjutnya…

  • Buntut Pembunuhan Soleimani dan Al Muhandis, Parlemen Irak Sepakat Usir Pasukan AS dari Irak

    Buntut Pembunuhan Soleimani dan Al Muhandis, Parlemen Irak Sepakat Usir Pasukan AS dari Irak

    TIKTAK.ID – Seperti dilaporkan Fars News, Minggu (5/1/20), dua hari pasca serangan udara Amerika yang menewaskan dua petinggi militer Iran dan Irak, anggota Parlemen Irak dalam sidang daruratnya, sepakat untuk mengesahkan draf undang-undang pencabutan kesepakatan keamanan antara Irak dan Amerika Serikat, sekaligus penarikan pasukan negara Paman Sam itu dari wilayah Irak.

    Berdasarkan undang-undang tersebut, Pemerintah Irak harus mencabut permohonan bantuan dari koalisi internasional anti-Daesh, dan membatalkan kesepakatan yang ditandatangani pada tahun 2016 karena masa operasi militer dan perang di Irak sudah berakhir, serta menyetop segala bentuk kehadiran pasukan asing di Irak.

    Parlemen Irak menggelar sidang darurat pada Minggu (5/1/20) karena desakan keras rakyat Irak agar segera mengesahkan undang-undang penarikan pasukan Amerika dari negara itu, terutama pasca teror terhadap Komandan Pasukan Quds, IRGC, Letnan Jenderal Qassem Soleimani dan Wakil Komandan Hashd Al Shaabi, Abu Mahdi Al Muhandis.

    Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Sosok Qassem Soleimani

    Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi dalam sidang darurat Parlemen Irak mendesak penarikan mundur segera pasukan Amerika dari negaranya.

    Bertolak belakang dengan pernyataan Presiden Amerika, Donald Trump yang menuduh Iran sebagai perancang serangan teror di kawasan Timur Tengah, PM Irak menegaskan, justru Iran lah yang selama ini terlibat aktif memerangi terorisme dan mendukung Hashd Al Shaabi yang merupakan bagian dari sistem keamanan resmi Irak.

    Sementara laman France24 melaporkan, salah satu poin dalam resolusi tersebut menyatakan bahwa Pemerintah Irak berkomitmen untuk mencabut permintaan bantuan dari koalisi internasional yang memerangi ISIS karena berakhirnya operasi militer di Irak dan sudah tercapainya kemenangan.

    “Pemerintah Irak harus mengakhiri keberadaan pasukan asing di tanah Irak dan melarang mereka menggunakan tanah, wilayah udara, atau air dengan alasan apa pun”, lanjut resolusi dimaksud.

    Baca juga: Ribuan Pelayat di Baghdad Kutuk ‘Setan Besar’ Amerika

    Tujuan utama resolusi itu adalah membuat Amerika Serikat memulangkan sekitar 5.000 tentaranya yang ada di berbagai wilayah di Irak.

    Halaman selanjutnya…

  • Mengenal Lebih Dekat Sosok Qassem Soleimani

    Mengenal Lebih Dekat Sosok Qassem Soleimani

    TIKTAK.ID – Serangan Udara Amerika di Bandara Internasional Baghdad pada Kamis kemarin menewaskan seorang petinggi Iran, Jenderal Qassem Soleimani. Peristiwa itu dikonfrimasi Pentagon pada Jumat esok harinya.

    Siapa Jenderal Qassem Soleimani?

    Soleimani adalah Jenderal yang memainkan peran utama dalam mempertahankan Iran melawan musuh-musuhnya. Bukan cuma bagi Iran tapi dia juga membantu negara-negara kawasan memerangi pendudukan asing dan terorisme, seperti yang dilaporkan PressTv, Sabtu 4 Januari 2020.

    Pria yang lahir pada 1957 ini memulai karirnya saat bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) pasca kemenangan Revolusi Islam pada 1979.

    Baca juga: Mantan Senator Virginia: Pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani ‘Tragedi Besar’ yang Bisa Berujung ‘Perang Besar’ AS vs Iran

    Ketika perang Irak – Iran meletus pada 1980, Soleimani secara perlahan dikenal sebagai Komandan yang mahir memimpin pasukan Iran. Dia terlibat dalam berbagai pertempuran melawan invasi pasukan rezim Ba’ath Irak dalam perang yang berlangsung selama delapan tahun itu.

    Selanjutnya dia ditunjuk sebagai Kepala Pasukan Quds IRGC. Secara bertahan dia menjadi tokoh terdepan yang mendorong Iran untuk membantu negara-negara di kawasan dan sekutunya untuk melawan intervensi yang didukung asing di kawasan.

    Ketika kelompok Takfiri yang didukung asing mengobrak-abrik negara-negara di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir, Jenderal ini muncul sebagai ahli strategi utama dan Komandan cerdik yang memimpin penasihat militer Iran membantu Pasukan Suriah dan Irak bertempur melawan kelompok teroris.

    Baca juga: Pasca Pembunuhan Jenderal Soleimani, New York, Los Angeles dan Washington dalam Keadaan Siaga Satu

    Halaman selanjutnya…

  • Pasca Pembunuhan  Jenderal Soleimani, New York, Los Angeles dan Washington dalam Keadaan Siaga Satu

    Pasca Pembunuhan Jenderal Soleimani, New York, Los Angeles dan Washington dalam Keadaan Siaga Satu

    TIKTAK.ID – Kota New York meningkatkan status kewaspadaan hingga ke tingkat tinggi karena kekhawatiran adanya serangan balasan terkait pembunuhan yang diklaim atas perintah langsung Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terhadap Komandan Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) Jenderal Qassem Soleimani pada Jumat (3/1/20), seperti yang dilaporkan PressTv.

    Kepala polisi New York, Dermot Shea mengatakan pada Jumat kemarin bahwa pasukannya sudah dalam “kewaspadaan tinggi” dan warga New York akan melihat lebih banyak petugas berseragam –beberapa bersenjata berat dan panjang– di daerah-daerah sensitif.

    Shea tak merinci lebih lanjut, namun sejumlah polisi bersenjata berat tampak bersiaga di kereta bawah tanah, angkutan massal lain, dan tempat-tempat wisata.

    Baca juga: Pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani atas Perintah Trump Banjir Kecaman dari Para Pejabat AS

    Sementara itu, Wali Kota New York, Bill de Blasio dan pejabat senior mengadakan konferensi pers ketika mendengar kabar Iran berjanji membalas dendam atas tewasnya Jenderal mereka oleh AS di Baghdad.

    “Tak perlu diingatkan lagi bahwa kota New York adalah target utama serangan teror di Amerika Serikat,” kata Blasio kepada wartawan. “Kita harus menyadari bahwa kejadian ini (pembunuhan Qassem Soleimani) menciptakan serangkaian kemungkinan berbahaya bagi kota kita. Kita berada pada puncak perang de facto antara Amerika Serikat dan Iran. Tak satu pun dari kita yang tahu bagaimana ini akan terjadi.”

    Bukan hanya kota New York, kota lain seperti Los Angeles, Washington, dan kota-kora besar di Amerika lainnya juga sedang siaga satu.

    Baca juga: AS Bunuh Jenderal Iran Qassem Soleimani, World War 3 dan WWIII Trending Topic

    Pada hari sebelumnya Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa serangan udaranya telah menewaskan Jenderal Soleimani dan Wakil Komandan Hashd al-Shaabi Irak atau Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), Abu Mahdi al-Muhandis dalam serangan udara di bandara internasional Baghdad.

    Halaman selanjutnya…