Tag: Impor Migas

  • Demi Hemat Energi, Menteri Jerman Sarankan Warganya Gunakan Sepeda

    Demi Hemat Energi, Menteri Jerman Sarankan Warganya Gunakan Sepeda

    TIKTAK.ID – Wakil Kanselir dan Menteri Ekonomi Jerman, Robert Habeck mengatakan kepada Funke Media Group pada Jumat (10/4/22), bahwa setiap orang Jerman harus berkontribusi untuk mengurangi ketergantungan bangsa pada energi Rusia.

    Hal itu disampaikan saat ia meminta sesama warga untuk mulai mengurangi konsumsi energi mereka, sambil menawarkan beberapa tips.

    “Sebagai aturan praktis, saya akan mengatakan: menghemat 10 persen selalu memungkinkan,” kata Habeck, mendesak “setiap orang untuk memberikan kontribusi untuk menghemat energi sekarang” dan mengumumkan kampanye Pemerintah. Politisi Hijau ini mengatakan penghematan energi tidak hanya bagian dari upaya untuk “menjadi lebih mandiri dari impor Rusia”, tetapi juga “proyek besar bersama” yang akan membantu Jerman dalam jangka panjang, seperti yang dilansir Russia Today.

    “Ini akan membuatnya lebih mudah di dompet dan mengganggu [Presiden Rusia Vladimir] Putin,” kata Menteri, menambahkan bahwa “kami akan melindungi iklim di atas itu”.

    Daftar langkah-langkah yang disarankan oleh Menteri melibatkan penggunaan sepeda daripada mobil, dan “tidak hanya pada hari Minggu”, serta memungkinkan orang untuk bekerja dari rumah, seperti yang terjadi selama penguncian pandemi Covid-19.

    Orang-orang dapat bekerja dari rumah setidaknya “satu atau dua hari seminggu secara sukarela untuk saat ini”, kata Habeck.

    Menarik tirai sambil memanaskan apartemen di malam hari bisa menghemat hingga 5 persen konsumsi energi, Menteri percaya akan hal itu. Menurunkan suhu kamar satu derajat akan menghemat 6 persen lagi, tambahnya, dengan alasan bahwa, meskipun “mungkin tidak senyaman biasanya, Anda belum kedinginan”.

    Habeck juga bersikeras untuk memasok Ukraina dengan lebih banyak senjata di tengah kebuntuan militer yang sedang berlangsung melawan Rusia. “Lebih banyak senjata harus datang,” katanya pada Jumat, menambahkan bahwa Berlin tidak dapat meninggalkan Kiev “sendirian”.

    “Ukraina tidak boleh kalah; Putin tidak boleh menang,” katanya, meskipun Berlin juga memiliki tanggung jawab kepada Jerman dan harus menghindari menjadikan Jerman “target”.

    Ia menambahkan bahwa Jerman telah menciptakan kerangka kerja di mana ia “memberikan segala yang mungkin”, tetapi sejauh ini “tidak termasuk tank atau jet tempur”.

    Menteri tersebut juga mencatat bahwa tank Leopard 1 yang menurut laporan perusahaan pertahanan Jerman Rheinmetall akan dikirim ke Ukraina awal pekan ini sebenarnya tidak siap tempur, dan membuatnya bisa memakan waktu berbulan-bulan.

    Rusia menyerang negara tetangganya itu pada akhir Februari, menyusul kegagalan Ukraina untuk mengimplementasikan persyaratan perjanjian Minsk, yang pertama kali ditandatangani pada 2014, dan pengakuan Moskow atas Republik Donbass di Donetsk dan Luhansk.

    Protokol Minsk yang ditengahi Jerman dan Prancis dirancang untuk memberikan status khusus kepada daerah-daerah yang memisahkan diri dari Ukraina.

    Kremlin sejak itu menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer NATO yang dipimpin AS. Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim bahwa pihaknya berencana untuk merebut kembali kedua Republik dengan paksa.

  • Serikat Buruh Jerman Anggap Penghentian Impor Energi dari Rusia Tak Masuk Akal

    Serikat Buruh Jerman Anggap Penghentian Impor Energi dari Rusia Tak Masuk Akal

    TIKTAK.ID – Konfederasi Serikat Buruh Jerman (DGB) menyuarakan keprihatinan mendalam mereka atas kemungkinan larangan impor minyak dan gas Rusia yang saat ini sedang dibahas oleh pembuat kebijakan Uni Eropa sebagai bagian dari sanksi baru yang akan dijatuhkan Uni Eropa terhadap Moskow.

    Menurut Kepala Aliansi Serkat Buruh, Reiner Hoffmann, embargo diperkirakan akan memukul ekonomi Jerman jauh lebih keras daripada ekonomi Rusia.

    “Saya percaya bahwa menghentikan impor [energi] sama sekali tidak masuk akal,” kata Hoffman kepada penyiar Jerman ARD, seperti yang dilansir Russian Today.

    Pejabat itu memperingatkan bahwa “konsekuensi ekonomi untuk Eropa dan Jerman akan jauh lebih serius daripada bagi Rusia”, sementara ia menyoroti bahwa larangan itu “tidak akan memengaruhi peristiwa di Ukraina”.

    Selain itu, embargo pada pasokan energi Rusia “akan menyebabkan penurunan yang signifikan di pasar tenaga kerja” dan memicu “runtuhnya semua rantai pasokan”, jelas Hoffmann.

    Pada Rabu kemarin, Jubir Pemerintah Wolfgang Buechner mengatakan bahwa pihak berwenang Jerman menentang embargo segera terhadap pasokan minyak dan gas Rusia. Ia menambahkan bahwa Kanselir Olaf Scholz telah berulang kali menunjukkan bahwa Pemerintah mengikuti strategi untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan pada pasokan energi Rusia.

    Menurut perkiraan Kementerian Urusan Ekonomi dan Aksi Iklim, Jerman akan mencapai kemandirian penuh dari gas Rusia pada musim panas 2024, sementara pasokan batubara dan minyak Rusia diperkirakan akan diganti tahun ini. Namun, para pemimpin industri negara itu membantah angka-angka ini.

    Pada tahun 2021, impor gas Eropa dari Rusia mencapai lebih dari 380 juta meter kubik (mcm) per hari melalui pipa, dengan total sekitar 140 bcm untuk tahun ini, menurut IEA. Tambahan 15 bcm dikirim dalam bentuk gas alam cair (LNG). Rusia menyumbang sekitar 45 persen dari impor gas UE dan 40 persen dari seluruh konsumsi gasnya.

    Menurut data Statista, sejumlah negara di Eropa sepenuhnya atau100 persen tergantung terhadap suplai gas dari Rusia, seperti Bosnia, Moldova dan Macedonia Utara. Sementara Bulgaria mengimpor gas Rusia sebanyak 77 persen, Jerman 49 persen dan Prancis 24 persen.

  • Upaya Jokowi Kurangi Impor Migas Buahkan Hasil, NPI Surplus US$ 4,68 Miliar

    Upaya Jokowi Kurangi Impor Migas Buahkan Hasil, NPI Surplus US$ 4,68 Miliar

    TIKTAK.ID – Upaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mulai melepaskan ketergantungan impor migas, perlahan membuahkan hasil. Meski neraca migas masih defisit, terlihat impor migas bergerak turun.

    Bank Indonesia (BI) melaporkan data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) terbaru. Pada kuartal IV-2019, NPI membukukan surplus sebesar US$ 4,28 miliar, jauh membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang defisit US$ 46 juta. Hal ini membuat NPI untuk keseluruhan 2019 menjadi surplus US$ 4,68 miliar, juga jauh membaik ketimbang 2018 yang negatif US$ 7,13 miliar.

    Salah satu poin penting dalam perbaikan NPI yaitu transaksi berjalan. Neraca tersebut memang masih mencatat defisit sebesar US$ 8,12 miliar atau 2,84% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal IV-2019. Sedangkan untuk keseluruhan 2019, transaksi berjalan membukukan defisit US$ 30,41 miliar (2,72% PDB), membaik ketimbang 2018 yang minus US$ 30,63 miliar (2,94% PDB).

    Baca juga: Jokowi Keluhkan Sosok Di Balik Impor Migas, Fahri Hamzah: Ada Orang Lebih Kuat dari Presiden

    “Perkembangan tersebut terutama ditopang neraca perdagangan barang yang mencatat surplus, berbeda dengan tahun sebelumnya yang mengalami defisit. Neraca perdagangan barang yang mencatat surplus dipengaruhi surplus neraca perdagangan non-migas yang meningkat serta defisit neraca perdagangan migas yang menurun,”sebut keterangan tertulis BI, dilansir CNBCIndonesia.com.

    Sepanjang 2019, neraca migas memang masih defisit US$ 10,31 miliar. Hal itu lebih baik ketimbang 2018 yang negatif US$ 11,4 miliar.

    Perbaikan tersebut disebabkan oleh penurunan impor. Pasalnya, sepanjang 2019 nilai impor migas Indonesia adalah US$ 22,3 miliar, turun signifikan dibandingkan 2018 yang sebesar US$ 29,02 miliar. Sementara untuk neraca gas, Indonesia masih mampu mempertahankan surplus US$ 4,8 miliar, walau menipis ketimbang surplus tahun sebelumnya yaitu US$ 6,81 miliar.

    Baca juga: Buya Syafi’i Bawa Pesan Penting untuk Ahok Soal Anak Bangsa Bermental Asing Jadi Mafia Migas

    Halaman selanjutnya…

  • Jokowi Keluhkan Sosok Di Balik Impor Migas, Fahri Hamzah: Ada Orang Lebih Kuat dari Presiden

    Jokowi Keluhkan Sosok Di Balik Impor Migas, Fahri Hamzah: Ada Orang Lebih Kuat dari Presiden

    TIKTAK.ID – Dalam pidato resmi kenegaraan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluhkan adanya sosok di balik impor gas yang masif saat ini. Namun Jokowi tidak dapat menghentikan aksi yang dinilai merugikan negara tersebut.

    Politisi Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora), Fahri Hamzah menilai miring pernyataan Jokowi. Ia mengatakan adanya sosok lebih kuat dibandingkan Jokowi.

    Baca juga: Apa Jadinya Jika Jokowi Stop Ekspor Batu Bara RI?

    “Kedengarannya ada orang kuat, yang lebih kuat dari presiden,” tulis Fahri Hamzah melalui akun Twitter @fahrihamzah, Selasa (24/12/19). Cuitan Fahri itu membalas postingan akun @Zlatan_asikin yang mengunggah video pidato Jokowi.

    “Pasti ada yang salah kalau presiden sampai mengeluh di depan rakyatnya sendiri, maka apakah yang salah itu? Mari kita tanyakan kepada rumput yang bergoyang,” cuit Fahri.

    Halaman selanjutnya…