Tag: ibadah haji

  • Calon Jemaah Haji Perlu Kenali Aplikasi Nusuk

    Calon Jemaah Haji Perlu Kenali Aplikasi Nusuk

    TIKTAK.ID – Dapat melaksanakan salat, berdoa, dan berzikir di area Raudhah di Masjid Nabawi, Madinah, menjadi harapan seluruh jemaah haji maupun umrah. Namun berbeda dengan kebijakan di tahun-tahun sebelumnya, untuk menuju Raudhah, saat ini jemaah harus mendaftar lewat aplikasi bernama Nusuk terlebih dahulu.

    Raudhah sendiri termasuk agenda wajib jemaah haji dan umrah lantaran merupakan tempat yang mulia dan istimewa. Di tempat itu, sekitar 1.400 tahun silam, Nabi Muhammad melaksanakan salat, menerima wahyu, berdakwah, dan berkumpul dengan para sahabatnya.

    Oleh sebab itu, minat jemaah untuk bisa beribadah di Raudhah sangat tinggi. Akan tetapi saat pandemi COVID-19, otoritas Kerajaan Arab Saudi harus mengaturnya, sehingga digunakanlah Nusuk.

    Sejak pandemi, jemaah memang tidak dapat memasuki Raudhah secara leluasa karena harus sesuai dengan jadwal yang diberikan di aplikasi sesuai pendaftaran. Hikmahnya, kini menuju Raudhah menjadi lebih tertib dan nyaman.

    Seperti dilansir detik.com dari situs Nusuk.sa, Nusuk adalah platform perencanaan, pemesanan, dan pengalaman resmi Kerajaan Arab Saudi untuk membuat rencana perjalanan haji atau umrah ke Makkah, Madinah, dan sekitarnya. Tak hanya untuk mendaftar ke Raudhah, jemaah seluruh dunia juga bisa dengan mudah mengatur seluruh kunjungan mereka, mulai dari mengajukan e-Visa hingga memesan hotel dan penerbangan.

    Bila Anda pergi menggunakan jasa travel haji dan umrah, biasanya mereka akan sekaligus sudah mendaftarkan kunjungan ke Raudhah. Namun jika ingin ke Raudhah lagi atas inisiatif sendiri di luar jadwal yang sudah didaftarkan oleh pihak travel, maka dapat mendaftar lagi secara mandiri lewat aplikasi ini.

    Aplikasi Nusuk tersedia untuk perangkat iOS maupun Android, sehingga bisa diunduh melalui AppStore dan Play Store oleh jemaah yang akan menjalankan ibadah haji atau umrah.

    Berikut ini cara mendaftar aplikasi Nusuk:

    1. Kunjungi aplikasi PlayStore atau AppStore, dan pilih Install (download). Usai pengunduhan, buka aplikasi tersebut.
    2. Begitu masuk halaman utama, aplikasi bakal meminta izin untuk akses lokasi dan kalender. Secara default aplikasi ini memakai bahasa Arab, tapi juga ada pilihan bahasa Inggris bagi yang tidak fasih berbahasa Arab. Setelah itu akan tampil pilihan “Login” dan “New User”. Bila baru pertama kali menggunakannya, pilih “New User”.
    3. Masuk ke bagian pengisian data, pilih opsi paling kanan atas sebagai “Visitor”.
    4. Isi nomor visa, paspor, kebangsaan, nomor telepon, email, dan password akun Nusuk. Selanjutnya centang semua pernyataan di bawahnya, dan nyalakan tombol jika jemaah memerlukan pendampingan khusus (Special Assistance), lalu pilih “Register”.
    5. Sistem bakal mengirim empat nomor pin via email sebagai aktivasi aplikasi Nusuk. Pastikan email yang diberikan adalah alamat email aktif.
    6. Ketika pengguna login ke aplikasi, sistem kembali mengirim kode verifikasi via email.
    7. Jika sudah selesai di menu utama, terdapat pilihan aktivitas. Pilih menu Raudhah sesuai dengan jenis kelamin perempuan atau laki-laki.
    8. Akan muncul pilihan untuk menentukan tanggal dan jam berkunjung. Berikutnya, aplikasi akan mengirim jadwal kunjungan sesuai pilihan. Jadwal kunjungan tersebut nantinya digunakan sebagai bukti yang ditunjukkan kepada ke askar (petugas) ketika berkunjung ke Raudhah.
  • Calon Jemaah Haji Lansia Perlu Waspadai Penyakit Ini

    Calon Jemaah Haji Lansia Perlu Waspadai Penyakit Ini

    TIKTAK.ID – Calon jemaah haji lansia atau lanjut usia perlu mewaspadai penyakit infeksi paru-paru dan gangguan pikun akut selama menunaikan ibadah rukun Islam kelima. Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam di KKHI Makkah, dr. Arfik Setyaningsih Sp.PD, jemaah haji lansia sebaiknya lebih berhati-hati pada penyakit tersebut lantaran faktor kondisi daya tahan tubuh dan perubahan lingkungan.

    “Jemaah haji lansia di Arab Saudi rentan terkena penyakit, seperti infeksi paru-paru dan gangguan pikun akut yang dapat membuat jemaah dirawat di KKHI Makkah,” ungkap Arfik, seperti dikutip Kompas.com dari Sehatnegeriku (8/6/23).

    Arfik menjelaskan bahwa jemaah haji lansia perlu mewaspadai infeksi paru-paru, karena penyakit ini yang paling sering membuat jemaah haji dirawat di KKIH Makkah.

    “Jemaah haji lansia rentan terkena infeksi paru lantaran daya tahan tubuhnya menurun, yang dipengaruhi penuaan, penyakit kronis, stres, kelelahan, dehidrasi, dan penyesuaian iklim,” terang Arfik.

    Arfik mengatakan gejala infeksi paru pada lansia tidak spesifik berupa batuk karena masalah perubahan imunitas. Dia menyebut gejala awal infeksi paru yang dirasakan berupa tidak nafsu makan, lemas, kurang energik, menyendiri, sering jatuh, kedinginan, gangguan kencing, napas terasa berat, mudah lelah, mendadak lupa, bahkan penurunan kesadaran.

    Tidak hanya infeksi paru, jemaah haji lansia juga banyak yang terkena gangguan pikun akut atau penurunan daya ingat secara mendadak, meski sebelumnya tidak mengalami masalah sejenis di Tanah Air. Gejala gangguan pikun akut pada lansia dapat berupa gelisah, marah-marah hingga mengamuk, tersesat, gangguan tidur, ada juga yang menjadi pendiam dan menyendiri, serta kebingungan.

    Arfik menyatakan gangguan pikun dikenal dengan istilah delirium. Dia menilai jika kondisinya kronis atau berkepanjangan, maka dikenal dengan demensia.

    “Umumnya penyakit ini sudah lama diidap pasien, tapi sering tidak dikenali gejalanya oleh keluarga maupun tenaga kesehatan. Perburukan kondisi dialami jemaah haji ketika sudah tiba di Tanah Suci,” ucap Arfik.

    Arfik berpendapat penyebab pikun akut pada jemaah haji lansia biasanya akibat gangguan penyesuaian karena perbedaan cuaca yang ekstrem, suasana pesawat terbang, hotel, masjid dan lingkungan di Tanah Suci. Dia juga menganggap kondisi ini dapat disebabkan tidak adanya pendamping dari keluarga, gagal adaptasi dengan rombongan kloter, dehidrasi, gangguan elektrolit, infeksi, masalah nutrisi, dan penyakit kronis yang tidak terkontrol.

  • Kontroversi Wacana Ibadah Haji di Metaverse

    Kontroversi Wacana Ibadah Haji di Metaverse

    TIKTAK.ID – Belakangan ini muncul wacana kontroversial ibadah Haji di metaverse. Metaverse sendiri adalah memindahkan dunia kita ke alam virtual. Artinya, segala hal yang biasa kita lakukan di dunia nyata, dapat dilakukan di dunia maya melalui avatar, mulai dari urusan beli tanah virtual hingga mengikuti rapat kantor.

    Lantas bagaimana dengan perkara ibadah? Di Timur Tengah, sedang terjadi perdebatan soal wacana ibadah haji di metaverse. Seperti dilansir detikINET, Selasa (8/2/22), wacana ibadah Haji di metaverse berawal saat Kakbah di Masjidil Haram turut hadir di metaverse. Kakbah di metaverse tersebut resmi dibuat oleh Kerajaan Saudi Arabia.

    Middle East Eye melaporkan, proyek metaverse yang bernama Virtual Black Stone Initiative ini diluncurkan pada akhir Desember 2021. Kemudian Imam Besar Masjidil Haram, Sheikh Abdul Rahman Al Sudais menjadi yang pertama mengunjungi Kakbah metaverse ini dengan Virtual Reality (VR).

    Kakbah di metaverse tersebut digagas oleh Pemerintah Saudi lewat Badan Urusan Pameran dan Museum, yang bekerja sama dengan Universitas Ummul Quro. Kakbah di metaverse bertujuan memberi kesempatan umat Islam agar dapat menyentuh Hajar Aswad secara virtual.

    Pasalnya, di dunia nyata mereka harus rebutan dengan ribuan orang lain. Terlebih saat ini kita tidak bisa sama sekali menyentuhnya akibat pandemi Corona.

    Oleh sebab itu, di Timur Tengah mencuat ide, jika Kakbah sudah ada di metaverse, bagaimana kalau ibadah Haji juga dilakukan di metaverse. Perdebatan tersebut tampaknya tidak sampai ke Indonesia, namun cukup ramai di Timur Tengah.

    Merespons perdebatan tersebut, para ulama Turki ikut angkat bicara. Hurriyet Daily News Turki menyatakan, Departemen Urusan Agama Turki (Diyanet) sudah mengkajinya selama sebulan. Hasilnya, merela mengeluarkan keputusan bahwa mengunjungi Kakbah di metaverse tidak dianggap sebagai ibadah Haji.

    “Haji di metaverse tidak dapat terjadi. Umat memang bisa mengunjungi Kakbah di metaverse tapi itu tidak akan dianggap sebagai ibadah,” jelas Direktur Departemen Layanan Haji dan Umrah Diyanet, Remzi Bircan.

    Remzi Bircan menerangkan, haji harus dilakukan di dunia nyata. Dia menegaskan, Kakbah lewat VR dianggap sama saja dengan layanan VR di sejumlah museum dunia.

  • Ikuti Jejak Indonesia, Malaysia Tangguhkan Pemberangkatan Jemaah Hajinya Tahun ini

    Ikuti Jejak Indonesia, Malaysia Tangguhkan Pemberangkatan Jemaah Hajinya Tahun ini

    TIKTAK.ID – Malaysia akhirnya mengikuti langkah Indonesia untuk melarang warganya melakukan ibadah haji pada tahun ini. Pernyataan itu disampaikan pada Kamis (11/6/20). Larangan itu mereka bilang karena kekhawatiran terkait pandemi virus Corona.

    Menteri Agama Malaysia, Zulkifli Mohammad Al-Bakri mengatakan bahwa keputusan untuk melarang warganya melakukan ibadah haji tahun ini adalah karena risiko tertular Covid-19 dan belum ditemukannya vaksin untuk mengobatinya. Covid-19, yaitu penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus.

    “Saya berharap para peziarah terus bersabar dan menerima keputusan itu,” kata Zulkifli pada konferensi yang disiarkan di televisi nasional, tulis Reuters.

    Baca juga: Sah! Muhyiddin Yassin Jadi Perdana Menteri Baru Malaysia

    Negeri Jiran itu setiap tahunnya mengirim puluhan ribu peziarah ke Arab Saudi, rumah tempat dua situs paling suci umat Islam, Mekah dan Madinah. Para peziarah di Malaysia dapat menunggu sampai 20 tahun untuk dapat berangkat beribadah haji ke tanah suci karena sistem kuota yang diterapkan oleh Arab Saudi.

    Dalam pernyataan terpisah, Dewan Tabung Haji Malaysia -yang mengelola rencana tabungan untuk calon jemaah haji- mengatakan keputusan itu akan memengaruhi sekitar 31.600 orang yang dipilih untuk melakukan ibadah haji tahun ini.

    Malaysia telah melaporkan 8.369 kasus virus Corona baru sejauh ini, dengan 118 kematian.

    Selain Malaysia dan Indonesia, Brunei juga mengumumkan akan menangguhkan keberangkatan jemaah haji mereka pada tahun ini. Menteri Agama Brunie, Awang Badaruddin Othman mengatakan bahwa negara tak akan mengirim seribu jemaah haji yang tiap tahun dikirimkan dan juga mereka yang bepergian dengan biaya sendiri, harian Borneo Bulletin melaporkan.

    Baca juga: Trump Teken Sanksi untuk Pejabat Pengadilan Pidana Internasional

    Halaman selanjutnya…