Tag: Helmy Yahya

  • Jabat CEO KidsLoop Nusantara, Helmy Yahya Ingin Bantu Pelajar Muslim Indonesia

    Jabat CEO KidsLoop Nusantara, Helmy Yahya Ingin Bantu Pelajar Muslim Indonesia

    TIKTAK.ID – Presenter Helmy Yahya yang sempat memimpin dan membenahi Lembaga Penyiaran Publik, TVRI, belakangan ini membuktikan rasa cintanya kepada Indonesia. Adik kandung Tantowi Yahya tersebut ikut melangkah maju untuk berkontribusi di dunia pendidikan Tanah Air.

    Kini Helmy Yahya telah berstatus sebagai CEO KidsLoop Nusantara.

    Pria kelahiran Indralaya, 6 Maret 1963 tersebut pun mengaku ingin membantu pelajar Muslim di Indonesia yang berjumlah sekitar 55 juta orang agar dapat lebih mengenal sejarah Islami serta menghidupkan kembali Sirah Nabawiyah.

    Untuk mewujudkan misinya tersebut, maka Helmy Yahya membuat konten aplikasi Islami. Mantan Direktur Utama TVRI periode 2017-2022 ini lantas menggandeng perusahaan Rumah Kisah yang selama ini sudah berpengalaman dalam hal membuat konten yang menyenangkan sekaligus ramah anak sejak awal 2020 lalu.

    “Harapan dan pencapaian nantinya agar KidsLoop EduTech bisa menjadi perusahaan yang terdepan dalam menyediakan materi pelajaran Agama Islam berbasis aplikasi,” ujar Helmy Yahya melalui siaran pers, seperti dilansir Liputan6.com.

    Untuk diketahui, KidsLoop sendiri adalah perusahaan EduTech global yang mempunyai misi dalam menghadirkan kesempatan belajar bagi anak-anak. Perusahaan ini bergerak di bidang usaha transformasi pendidikan dini.

    Kemudian salah satu fungsi perusahaan yang kantor pusatnya di London, Inggris ini yaitu membantu sekolah dan penerbit untuk mendigitalkan konten serta menganalisa konten yang dihasilkan.

    KidsLoop telah berdiri sejak 2011, dan hingga saat ini telah memiliki kantor di beberapa negara. Mulai dari Hong Kong, Korea Selatan, China, hingga merambah ke sebanyak 30 negara di dunia, termasuk Indonesia.

    Helmy Yahya pun berharap dengan kehadiran KidsLoop EduTech di Indonesia, akan menbantu para orang tua dan pelajar dalam menambah ilmu pengetahuan. Ia menyebut Indonesia sebagai salah satu negara Muslim terbesar di dunia. Oleh sebab itu, Helmy Yahya melihat pangsa pasar pendidikan yang mengangkat unsur Islami perlu digalakkan dengan kemajuan teknologi yang ada.

    “Untuk mendapatkan pangsa pasar yang cukup besar ini, maka saya akan rutin mensosialisasikan program-program ini ke berbagai instansi Pemerintah Pusat dan Daerah,” tutur Helmy Yahya.

  • Inilah Jawaban JK Saat Ditanya Lebih Enak Jadi Wapres Zaman SBY atau Jokowi

    Inilah Jawaban JK Saat Ditanya Lebih Enak Jadi Wapres Zaman SBY atau Jokowi

    TIKTAK.ID – Muhammad Jusuf Kalla atau yang akrab disapa JK telah dua kali menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia. Pertama, saat periode 2004 hingga 2009 di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kemudian periode 2014 hingga 2019 di era Joko Widodo (Jokowi).

    Pembawa acara sekaligus politikus Helmy Yahya sempat bertanya kepada JK, lebih enak jadi Wapres di zaman SBY atau Jokowi? Pertanyaan tersebut dilontarkan Helmy ketika ngobrol dengan JK, dan ditayangkan di channel YouTube Helmy Yahya Bicara, Selasa (22/9/20).

    “Bapak sudah dua kali menjadi Wakil Presiden. Lebih enak menjadi Wakil Presiden di zaman Pak SBY atau lebih enak di zaman Pak Jokowi?” tanya Helmy Yahya dalam tayangan yang diberi judul “Ngobrol Serius dan Bercanda ala JK” tersebut, seperti dilansir Sindonews.com.

    Baca juga : Gara-gara ini Novel Bamukmin Sebut Sandiaga Pengkhianat

    JK menjawab, menjadi Wakil Presiden di era SBY dan Jokowi sama saja.

    “Ya sama saja lah, hanya berbeda kepemimpinan dan gayanya. Kalau zamannya Pak SBY, semua masalah ekonomi diserahkan kepada saya, sedangkan di zaman Pak Jokowi, semua soal dirapatkan. Semua soal, jadi rapatnya dalam satu minggu bisa sampai empat atau lima kali,” terang JK.

    Helmy Yahya pun kembali bertanya, “Pak Jokowi senang sekali rapat ya?”

    Baca juga : Sayangkan Sikap Jokowi yang Abaikan Suara Publik, Jaringan GUSDURian Ikut Keluarkan Pernyataan Sikap

    Kemudian JK mengatakan memang begitulah gaya Jokowi. Menurutnya, kepemimpinan Jokowi yakni semua keputusan diambil bersama.

    “Jadi, artinya apa? Di zaman Pak SBY?” tanya Helmy lagi.

    “Lebih ringkas, lebih terarah, serta lebih cepat lah kita dalam mengambil keputusan,” sambar JK.

    “Makanya pak JK bilang lebih cepat lebih baik ya?” balas Helmy Yahya sambil tertawa, yang kemudian dibenarkan JK.

    Baca juga : Wow! Benarkah Munculnya Usulan Super Holding BUMN Bertujuan Jadikan Ahok sebagai CEO-nya?

    Dalam kesempatan lain, JK mengungkapkan memiliki pengalaman berbeda saat mendampingi Jokowi dan SBY sebagai Wapres. Mengutip CNN Indonesia TV, di era SBY, JK menyebut latar belakangnya sebagai pengusaha, membuat ia diberi kepercayaan untuk menangani berbagai persoalan ekonomi di Tanah Air.

    Namun ketika mendampingi Jokowi, berbagai permasalahan kerap dibahas bersama dalam sejumlah rapat. Mulai dari rapat terbatas, rapat internal, hingga rapat paripurna.

    “Zaman Pak SBY kita sepakat bahwa saya lebih menerangkan tugas-tugas di ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Kalau dengan Pak Jokowi lain lagi, semua hal dibicarakan bersama-sama. Jadi saya terlibat semua, karena semua rapat dihadiri Presiden dan Wapres, tidak ada yang dibedakan,” ucapnya.

  • Ambil Untung Seribu Rupiah dari Geprek Bensu, Ruben Onsu: Niatnya Memang Ingin Buka Lapangan Pekerjaan

    Ambil Untung Seribu Rupiah dari Geprek Bensu, Ruben Onsu: Niatnya Memang Ingin Buka Lapangan Pekerjaan

    TIKTAK.ID – Pembawa acara Ruben Onsu mengaku tidak mengambil untung banyak dari usahanya, Geprek Bensu. Ruben mengungkapkan hal itu dalam perbincangan di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara.

    Ruben mengatakan dia hanya mengambil untung Rp1.000 dari setiap porsi menu Geprek Bensu.

    “Dari Geprek Bensu enggak dapat untung banyak. Per-makanan dijual Rp15.000 ribu, untung itu Rp1.000,” ujar Ruben seperti dikutip Kompas.com dari video berjudul “Makanya Ruben Onsu Kaya, Bisnisnya Serius dan Dia Turun Sendiri”, Kamis (21/5/20).

    Kepada Helmy Yahya, Ruben membeberkan alasannya tak mengambil untung banyak di bisnis ayam gepreknya tersebut. Ruben mengklaim tidak bertujuan mengambil untung banyak dalam membuka bisnis Geprek Bensu, melainkan lebih untuk membuka lapangan pekerjaan.

    “Saya mah bukan buka usaha yang mewah gitu, tapi buat saya, minimal saya bisa menampung orang buat bekerja,” terang ayah tiga anak itu.

    Ruben menjelaskan, setiap membuka gerai baru dia selalu mengutamakan penduduk sekitar untuk menjadi karyawannya. Sebab, pria kelahiran 15 Agustus 1983 itu menyadari masih banyak sekali orang yang membutuhkan pekerjaan.

    Ruben menyatakan hal itu merupakan mimpi yang ia wujudkan. Ia juga menyebut, banyak orang jahat karena mereka tidak punya kerjaan. Ia pun meyakini tidak ada orang yang terlahir jahat, namun karena keadaan.

    Karena ketekunannya menjalani bisnis, saat ini Ruben telah memiliki 135 gerai dengan 6.500 karyawan. Usahanya itu telah tersebar di beberapa kota besar di Indonesia, bahkan hingga luar negeri.

    Meski begitu, di tengah pandemi virus Corona (Covid-19) yang mengakibatkan penurunan omzet, Ruben harus merelakan merumahkan 2.500 karyawannya. Namun ia tetap memberikan satu bulan gaji dan satu kali tunjangan hari raya (THR) kepada karyawan yang dirumahkan.

    Usaha Ruben mengalami penurunan omzet mencapai lebih dari 50 persen, sehingga ia terpaksa menutup dua restorannya.

    “Dua di antara restoran itu, kita bahas di Indonesia dulu, sudah pasti tutup di Lubuk Linggau dan Bukittinggi. Di dua lokasi itu tidak bisa kita pertahankan,” jelasnya.

  • Praktisi Media Ungkap 5 Penyebab Helmi Yahya Dicopot Dewas dari Dirut TVRI

    Praktisi Media Ungkap 5 Penyebab Helmi Yahya Dicopot Dewas dari Dirut TVRI

    TIKTAK.ID – Praktisi media Helmi Adam menduga ada lima kesalahan yang telah dilakukan Helmy Yahya. Berdasarkan penelusuran Adam, kesalahan-kesalahan itulah yang menyebabkan Helmi Yahya dicopot dari jabatannya sebagai Direktur Utama TVRI oleh Dewan Pengawas (Dewas).

    Adam mengatakan, kesalahan pertama diduga adanya masalah Rencana Kinerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) yang direvisi tanpa persetujaun Dewan Pengawas LPP TVRI. Hal itu mengakibatkan ada enam kali keterlambatan pembayaran honor SKK dan revisi anggaran rebranding.

    Kedua, tidak berkoordinasi dan mengacuhkan surat-surat teguran Dewan Pengawas TVRI. Helmy disinyalir tidak merespons balik dan tidak atau mengabaikan persetujuan Dewan Pengawas TVRI sesuai kebijakan LPP TVRI.

    Baca juga: Ma’ruf Amin Datangi KPK, Ada Apa?

    “Ketiga, adanya masalah penunjukan Kuis Siapa Berani,” ujar Adam, dilansir Tribunnews.

    Keempat, lanjut Adam, dugaan adanya masalah penayangan program siaran berbiaya besar tanpa persetujuan Dewan Pengawas TVRI.

    Kesalahan terakhir, yakni ketidakmampuan mengelola anggaran sehingga siaran ulangan program dan berita semakin banyak. Adam menyatakan hal itu terjadi karena anggaran habis jauh sebelum masanya.

    Halaman selanjutnya…

  • Kemenkominfo Sarankan Dewas TVRI Ralat SK Pemberhentian Helmy Yahya

    Kemenkominfo Sarankan Dewas TVRI Ralat SK Pemberhentian Helmy Yahya

    TIKTAK.ID – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyarankan kepada Dewan Pengawas (Dewas) TVRI untuk memperbaiki Surat Keputusan (SK) Dewan Pengawas Nomor 3/2019. Hal tersebut terkait Dewas yang menonaktifkan Direktur Utama TVRI Helmy Yahya dari jabatannya.

    Menkominfo Johnny G. Plate menyebutkan, Dewas memiliki kewenangan memberhentikan Direksi sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.13/2005 tentang Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia. Hanya saja, peraturan tersebut tidak menyatakan Dewas memiliki wewenang untuk mengangkat pelaksana tugas (Plt.) Dia mengatakan, pengangkatan Plt. dalam SK yang beredar di masyarakat dapat menimbulkan perbedaan penafsiran.

    Baca juga: Dirut TVRI Helmy Yahya Dipecat Dewan Pengawas, Gilang Dirga dan Irfan Hakim Serukan #SaveTVRI

    “Direksi TVRI mempunyai hak sesuai dengan peraturan tersebut untuk membela dirinya,” ujar Johnny di Jakarta, dilansir Bisnis.com, Jumat (6/12/19).

    Ia meminta Dewan Direksi memperhatikan hak dan kewajibannya sebagaimana yang dimaksud dalam PP.

    Tak hanya itu, dalam pasal yang sama disebutkan, Direksi yang mendapat SK pemberhentian mempunyai waktu satu bulan untuk melakukan pembelaan secara tertulis atas tuduhan yang diberikan kepadanya. Dewas kemudian diwajibkan mengkaji kembali hasil pembelaan dari Direksi. Kajian tersebut dilakukan selama dua bulan.

    Baca juga: Mengapa Idola Instan Jebolan Ajang Pencarian Bakat Tak Kunjung Tenar

    Halaman selanjutnya…

  • Dirut TVRI Helmy Yahya Dipecat Dewan Pengawas, Gilang Dirga dan Irfan Hakim Serukan #SaveTVRI

    Dirut TVRI Helmy Yahya Dipecat Dewan Pengawas, Gilang Dirga dan Irfan Hakim Serukan #SaveTVRI

    TIKTAK.ID – Kabar pencopotan Helmy Yahya dari Direktur Utama (Dirut) TVRI tengah menjadi bahan pembicaraan belakangan ini. Helmy dicopot langsung oleh Dewan Pengawas, namun ia melawan keputusan itu dan mengatakan bahwa saat ini dirinya masih Dirut TVRI yang sah.

    Saat kabar pemecatan Helmy tersebar luas, warganet langsung bereaksi keras. Sejumlah artis, seperti Gilang Dirga dan Irfan Hakim, bahkan menggaungkan tagar #SaveTVRI secara kompak. Hal ini dilakukan agar Helmy Yahya kembali pada posisi semula.

    Baca juga: Channel YouTube Baim-Paula Raih Penghargaan Bergengsi Tingkat Asia

    Gilang Dirga merupakan salah satu artis yang terus memberi dukungan pada Helmy Yahya. Ketika Helmy dicopot jabatannya sebagai Dirut TVRI, ia mengatakan sangat sedih. Sebab, ia mengakui banyak sekali perkembangan TVRI di bawah arahan Helmy Yahya.

    “Mendengar kabar itu, saya sangat sedih. Sebab, saya paham betul dengan perubahan yang terjadi pada TVRI selama ini. Perkembangan TVRI sangat terasa sejak dipimpin oleh Pak @helmyyahya dan semua intuisinya. Bahkan, di bawah kepemimpinannya, prestasi yang didapat TVRI sangat luar biasa, ada beberapa screen capture yang saya sertakan pada postingan ini. Terus, sampai kapan kita harus diam? Dengan hastag #wefightback TVRI sudah menggebrak sejak awal,” tulis Gilang Dirga di akun Instagramnya.

    Halaman selanjutnya…