Tag: Fakta Kesehatan

  • Akhirnya Terungkap! Inilah yang Membuat Banyak Orang Justru Lebih Cepat Lelah Saat Bekerja di Rumah

    Akhirnya Terungkap! Inilah yang Membuat Banyak Orang Justru Lebih Cepat Lelah Saat Bekerja di Rumah

    TIKTAK.ID – Banyak orang mengatakan di sosial media bahwa mereka merasa lebih cepat merasa capek atau lelah selama kerja dari rumah. Mereka yang biasanya bisa melek hingga dini hari; kini, mereka tidur pukul 10 malam. Banyak yang merasa heran mengapa, padahal kegiatan mereka berkurang.

    Perasaan lelah yang kita rasakan kemungkinan besar terkait dengan beban kerja mental terkait Covid-19 ketimbang beban fisik. Kelelahan dapat memiliki sebab fisik dan non-fisik.

    Setelah berlari 5 kilometer kita butuh istirahat, atau setelah sakit kita bisa merasa lemah dan lelah selama beberapa minggu.

    Tapi penelitian juga menunjukkan bahwa kelelahan bisa disebabkan oleh keadaan psikologis, misalnya stres dan kecemasan.

    Baca juga: Begini 5 Cara Aman Jaga Punggung Saat Kerja di Rumah

    Pada situasi sekarang, bisa jadi rutinitas yang monoton menyebabkan kita merasa lelah. Oleh karena itu, menghadapi beban psikologis terkait wabah bisa membuat kita kehabisan tenaga.

    Bagaimana cara untuk memperoleh energi kembali?

    Tahap-tahap Penyesuaian

    Bila kita melihat pada momen perubahan besar, misalnya saat remaja memulai kuliah atau saat orang pindah ke negara baru, ada periode adaptasi dan transisi yang dibutuhkan. Periode ini memerlukan waktu dan terjadi dalam beberapa tahapan.

    Minggu pertama masa adaptasi berisi pelepasan dari cara-cara hidup dan kerja yang lama, dan membuat interaksi-interaksi baru. Ini biasanya akan tercapai pada hari keempat atau kelima, dan sesudahnya kehidupan akan lebih teratur dan bisa diperkirakan.

    Orang-orang pada minggu-minggu pertama mungkin merasa suram dan sedih. Ini tahap adaptasi normal. Ini tidak perlu dikhawatirkan, tapi yakinlah bahwa bagi banyak orang masa ini akan lewat dan minggu depan kita akan merasa lebih baik.

    Baca juga: Cara Hilangkan ‘Stres Eating’ Ketika Kelamaan Berdiam Diri di Rumah

    Transisi dalam lingkungan baru dapat dibantu dengan menulis catatan harian refleksi. Catatan ini akan membantu mencatat pikiran dan perasaan. Kita dapat melihat kembali perkembangan dan bagaimana kita menyesuaikan diri.

    Adaptasi fungsional sepenuhnya pada cara hidup baru akan terjadi setelah kira-kira tiga bulan. Namun, ada satu periode yang perlu disadari yang akan muncul sekitar tiga minggu sejak proses dimulai; pada periode ini orang dapat tiba-tiba mengalami masa melankolis dan kehilangan semangat.

    Kekhawatiran yang dirasakan saat ini adalah bahwa situasi karantina telah menjadi permanen. Tapi bila fase ini telah dilewati, perasaan suram ini tidak akan muncul lagi.

    Halaman selanjutnya…

  • Perlu Dipahami, Berikut Perbedaan Alergi, Flu, dan Corona

    Perlu Dipahami, Berikut Perbedaan Alergi, Flu, dan Corona

    TIKTAK.ID – Kemunculan virus Corona membuat masyarakat sangat ketakutan. Hal ini karena virus tersebut menyerang sistem pernapasan. Uniknya, gejala dari virus tersebut mirip dengan flu biasa atau alergi, namun bisa berdampak fatal.

    Sama halnya dengan flu biasa, orang yang terpapar virus Corona memiliki gejala seperti batuk, demam, nyeri, otot, dan panas tubuh hingga bersuhu 38 derajat. Namun, flu biasa tidak memiliki gangguan pernapasan seperti gejala terinfeksi virus Corona. WHO atau organisasi kesehetan dunia mengatakan bahwa salah satu simtom virus tersebut adalah gangguan sistem pernapasan.

    Baca juga: Tips dari Stafsus Jokowi untuk Milenial Agar Tak Kesepian dan Stres Saat Social Distancing

    Head of Medical Kalbe Nutritionals, dr. Muliaman Mansyur menjelaskan perbedaan dari ketiga penyakit tersebut. Memang sangat sulit membedakannya, namun gejala virus Corona adalah batuk dan pilek yang disertai dengan demam panas.

    “Dibandingkan dengan virus tersebut, alergi juga menimbulkan sesak napas ketika sebelumnya memiliki riwayat asma dan membuat napas menjadi mengi. Penyakit flu tidak memiliki gejala sesak napas, sementara Corona ada sesak napas tapi tidak berbunyi. Ketika memiliki alergi, tidak ada sakit tenggorokan, sedangkan flu dan Corona memiliki gejala tersebut,” terang dr. Muliaman.

    Halaman selanjutnya…

  • Kelaparan Picu Otak Lebih Cerdas, Begini Kata Peneliti

    Kelaparan Picu Otak Lebih Cerdas, Begini Kata Peneliti

    TIKTAK.ID – Ketika menjelang sore hari, biasanya Anda menginginkan untuk menyantap makanan ringan. Hal tersebut merupakan ulah hormon ghrelin yang tengah bekerja dan membuat Anda merasa kelaparan. Zat kimia tersebut diproduksi oleh lambung, yang ketika Anda beraktivitas tanpa memakan apapun, kadarnya akan meningkat. Maka dari itu, hormon ghrelin kerap disebut hormon lapar.

    Hasil penelitian terbaru menyebutkan, efek hormon ghrelin akan berdampak pada sel-sel otak. Efek lapar pada seseorang ternyata dapat membuat orang itu menjadi lebih cerdas. Selain itu, hormon ini juga menjadi bagian penting dalam perawatan masa depan untuk penyakit neurodegeneratif.

    Baca juga: Hobi Baca Buku Pertajam Daya Ingat Otak, ini Buktinya!

    Sejak tahun 2006, para peneliti terus memperhatikan efek dari hormon ghrelin pada kekuatan otak. Hal tersebut kemudian diterbitkan di Nature Neuroscience. Tikus yang menjadi kelinci percobaan disuntik dengan ghrelin tambahan dan membuat kinerja memorinya meningkat sebanyak 40%.

    Bahkan, ghrelin memiliki pengaruh lebih penting dibandingkan hanya meningkatkan kekuatan otak normal saja. Hormon tersebut ternyata dapat mencegah sel-sel otak mati.

    Halaman selanjutnya…