Tag: Cina

  • (Cek Hoaks atau Fakta) Akun FB Anggota TNI AD Hina Jokowi

    (Cek Hoaks atau Fakta) Akun FB Anggota TNI AD Hina Jokowi

    TIKTAK.ID – Beredar di sosial media sebuah tangkapan layar unggahan akun Facebook bergambar seorang Anggota TNI Angkatan Darat (AD). Tangkapan layar tersebut menampilkan nama Eko Frananda yang membuat narasi penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi).

    Berikut ini narasi lengkap yang beredar:
    “Jadi Ini Orang Cina Bangain, Lihat Noh Mungka Nyaa Macam Mungka PKI, Maaf Pak Presiden,” begitu bunyi narasi yang tampak pada tangkapan layar yang beredar.

    Diketahui akun Facebook Hermawan turut mengunggah tangkapan layar unggahan akun Eko Frananda. Ia menambahkan tulisan yang menyesalkan unggahan berisi narasi tersebut.

    Baca juga : Erick Thohir Tunggu Dukungan Jokowi untuk Bubarkan Sejumlah BUMN ‘Hantu’

    “TIDAK PANTAS PRAJURIT MENGHINA PRESIDEN PANGLIMA TERTINGGI,” kata akun Hermawan, Minggu (7/6/20).

    Dilansir Medcom.id, klaim bahwa seorang Anggota TNI AD menghina Presiden Jokowi melalui akun Facebook Eko Frananda, adalah salah. Akun tersebut bukanlah milik seorang Anggota TNI AD.

    Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigjen TNI Nefra Firdaus memastikan akun Facebook Eko Frananda bukan milik seorang Anggota TNI AD. Menurutnya, hal itu berdasarkan hasil investigasi Pusat Sandi dan Siber TNI AD.

    Baca juga : Ketua Umum Cyber Indonesia: Pemakzulan Jokowi Penuh Berita Bohong

    “Akun itu MENGGUNAKAN foto prajurit TNI AD yang identitas sebenarnya adalah Prajurit Satu AA dari satuan Perbekalan dan Angkutan Kodam Iskandar Muda (Aceh),” terang Nefra dalam keterangan resmi, Minggu (7/6/20) sore.

    Nefra menilai unggahan itu telah merusak dan merugikan nama baik Prajurit Satu AA. Ia juga menyebut unggahan tersebut sangat merugikan TNI AD secara keseluruhan.

    “TNI AD telah mendorong proses hukum terhadap pemilik akun media sosial di atas,” ucap Nefra.

    Baca juga : Jokowi Mendadak Panggil Panglima TNI dan Kapolri, Ada Apa Kali ini?

    Dapat disimpulkan bahwa klaim seorang Anggota TNI AD menghina Jokowi melalui akun Facebook Eko Frananda, adalah salah. Sebab, faktanya akun itu bukan milik seorang Anggota TNI AD.

    Informasi itu termasuk dalam kategori hoaks jenis misleading content (konten menyesatkan). Hal itu terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten itu dibuat secara sengaja untuk menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.

    Selain itu, misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.

  • Kaum Muda Menentang Penyatuan Taiwan dan Cina

    Kaum Muda Menentang Penyatuan Taiwan dan Cina

    TIKTAK.ID – Kaum muda di Taiwan mulai mengambil langkah berseberangan dengan kaum tua di negara itu. Bila kaum tua setuju dengan penyatuan Taiwan dengan China, kaum muda lebih memilih untuk berpisah dan tetap independen, seperti yang dilaporkan Aljazeera, Jumat 27 Maret 2020.

    Salah satunya adalah produser teater independen Lin Chihyu, 29 tahun yang membatalkan rencananya terbang ke Vietnam untuk mengikuti pemilihan umum di Taiwan pada Januari lalu.

    “Jika tidak ada Taiwan, saya merasa akan sangat sulit untuk memiliki tempat lain di Asia yang memiliki tingkat kebebasan ini,” kata Lin. “Hanya di Taiwan yang memungkinkan Anda bebas untuk mengatakan [apa yang ingin Anda katakan].”

    Baca juga : Setelah Pangeran Monako, Kini Giliran PM Inggris Boris Johnson Tegaskan Dirinya Positif Corona

    Sistem politik yang demokratis dengan kebebasan yang tinggi, mendorong generasi muda semakin bangga dengan akar Taiwannya. Kondisi itu menciptakan perubahan generasi akan meningkatkan tensi politik masa depan pulau itu.

    “Sungguh menakjubkan bagaimana orang Taiwan yang lahir bahkan terpaut 10 tahun dapat memiliki pengalaman yang berbeda,” kata seorang ahli politik Taiwan dan seorang profesor hukum di Seton Hall University di New Jersey, Margaret Lewis.

    “Orang seusia saya ingat situasi darurat militer dan cukup tua untuk memilih pada pemilihan presiden langsung pertama [pada 1996]. Orang yang 10 tahun lebih muda, mungkin memiliki ingatan samar-samar tentang masa otoriter itu, tapi mereka tumbuh dewasa di Taiwan yang bebas dan demokratis,” tambah Lewis.

    Baca juga :‘Adu Mulut’ AS dan China Soal Virus Corona di Sidang Dewan Keamanan PBB

    Sementara itu sebuah survei tentang perubahan identitas di Taiwan oleh Pusat Studi Pemilihan Universitas Nasional Chengchi pada Juni tahun lalu mencatat sekitar 57 persen orang menyatakan sebagai orang Taiwan. Sedangkan 37 persen menjawab orang Taiwan dan Cina, dan hanya 4 persen yang mengatakan sebagai orang Cina. Sisanya, memilih untuk tak menjawab.

    Halaman selanjutnya…

  • Kota-Kota Kuno Megah di Dasar Lautan yang Tenggelam Akibat Bencana Alam dan Kutukan

    Kota-Kota Kuno Megah di Dasar Lautan yang Tenggelam Akibat Bencana Alam dan Kutukan

    TIKTAK.ID – Bumi yang kita tinggali saat ini sudah terbentuk sejak lama. Selama ini, banyak sekali misteri dari berbagai peradaban. Salah satunya adalah kota kuno yang tenggelam ke dasar lautan dan hampir ada di seluruh dunia.

    Para ahli mengatakan bahwa penyebab dari tenggelamnya kota tersebut adalah karena berbagai alasan. Mulai dari banjir besar, gunung meletus, gempa bumi, dan sejumlah bencana alam lainnya. Namun ada pula mitos yang menyebutkan bahwa kota tersebut tenggelam akibat sebuah kutukan.

    Berikut beberapa kota kuno yang tenggelam di dasar laut:

    Alexandria, Mesir

    Kota Alexandria Mesir

    Alexandria merupakan sebuah kota di Mesir yang dikuasai oleh Cleopatra. Kota Alexandria ini dikabarkan hilang lebih dari 1.600 tahun lalu. Setelah itu, kota Alexandria hanya menjadi cerita rakyat yang melegenda di kalangan masyarakat Mesir.

    Pada tahun 1998, tim arkeolog menemukan sejumlah reruntuhan dari kota tersebut di dekat lepas pantai Alexandria. Pada situs tersebut terdapat beberapa monumen yang masih terus dilakukan penelitian oleh tim arkeolog. Para ahli menyebutkan bahwa tenggelamnya kota ini dikarenakan bencana alam gempa bumi.

    Yonaguni, Jepang

    Kota Yonaguni Jepang
    Yonaguni Jima merupakan sebuah kota kuno yang ditemukan di Jepang. Lokasinya berada di Pulau Yaetama yang terletak di lepas pantai kepulauan Ryuku. Kota ini dikabarkan sudah tenggelam sejak 2000 tahun lalu.

    Kota Yonaguni ini digambarkan sebagai kota yang hebat pada zaman dahulu. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya lempengan batu kokoh yang proses pembuatannya membutuhkan teknologi tinggi yang pada masa itu belum ada. Ada juga artefak unik dan sebuah struktur yang mirip dengan piramida.

    Penelitian terhadap kota ini sedikit terhambat karena lokasi kota ini di lautan yang memiliki arus kuat dan dihuni oleh banyak hiu martil. Namun beberapa ahli menyebutkan kota Yonaguni Jima diperkirakan sudah ada sejak 5000 tahun lalu.

    Kota Singa, China

    Kota Singa China
    Kota yang tenggelam di sepanjang reruntuhan bawah danau Quindao ini sangat banyak ditemukan fosil singa. Itulah mengapa kota ini disebut dengan Kota Singa atau Lion City. Keindahan reruntuhan dari Kota Singa kini membuatnya disebut sebagai kota bawah laut yang paling spektakuler di dunia setelah kota Alexandria.

    Kota ini diperkirakan telah dibangun sejak 1.300 tahun lalu. Namun, baru ditemukan sekitar 53 tahun lalu dan masih dalam keadaan baik serta terjaga utuh.

    Terletak di kaki gunung, Kota Singa ini diperkirakan memiliki luas setara dengan 61 kali lapangan sepakbola. Saat ini Kota Singa tersebut menjadi salah satu destinasi wisata bawah air favorit di China.

  • Mengenal Virus Korona, Dalang di Balik Infeksi Paru Misterius China

    Mengenal Virus Korona, Dalang di Balik Infeksi Paru Misterius China

    TIKTAK.ID – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dikabarkan telah menduga kasus pneumonia yang ada di China disebabkan oleh virus corona. Virus tersebut juga menjadi bagian dari virus yang menjadikan seseorang mengalami pilek hingga SARS.

    Seperti diketahui, coronavirus merupakan jenis virus yang mempengaruhi saluran pernapasan mamalia, salah satunya adalah manusia. Virus tersebut diketahui memiliki hubungan dengan pilek, pneumonia, dan sindrom pernapasan parah (SARS) yang dapat berpengaruh pada usus.

    Sekadar informasi, pneumonia adalah infeksi yang menimbulkan peradangan pada kantung udara di salah satu atau kedua paru-paru, yang dapat berisi cairan.

    Baca juga: 9 Akar Tanaman Herbal Penjaga Kesehatan Ginjal

    Pada pneumonia, kantung udara bisa berisi cairan atau nanah. Infeksi dapat mengancam nyawa siapa pun, terutama pada bayi, anak-anak, dan lansia di atas 65 tahun.

    Seperti dimuat medicalnewstoday, coronavirus ditemukan pertama kali pada tahun 1973.

    Para ilmuwan disebut telah melakukan penelitian selama 70 tahun dan menemukan bahwa virus corona bisa menginfeksi beberapa hewan. Seperti tikus, anjing, kucing, kuda, babi, dan kalkun. Kemudian virus tersebut dapat berkembang dan bahkan bisa menyebabkan MERS dan SARS.

    Selain itu, virus corona sendiri mempunyai nama ilmiah, yakni Human coronavirus (HcoV). Virus ini pertama kali diidentifikasi pada penderita flu biasa di tahun 1960.

    Baca juga: 5 Mitos ‘Salah’ Tentang Tidur yang Masih Dipercaya Banyak Orang

    Sementara itu, infeksi akibat virus tersebut paling sering terjadi selama musim dingin dan awal musim semi. Bahkan, seseorang yang menderita flu karena coronavirus akan kembali tertular flu tersebut empat bulan kemudian. Hal ini karena antibodi coronavirus tidak bisa bertahan lama. Sehingga, antibodi pada satu jenis coronavirus kemungkinan besar tidak akan berguna pada jenis yang lain.

    Selain itu, pilek atau flu biasanya akan terjadi mulai dari dua hingga empat hari setelah terinfeksi coronavirus. Hal ini dimuali dengan gejala pilek, bersin, batuk, kelelahan, demam, dan sakit tenggorokan, hingga yang paling parah yaitu asma.

    Bahkan, virus korona tidak bisa dengan mudah direkayasa di laboraturium, tidak seperti virus lainnya, seperti rhinovirus dan penyebab flu biasa yang lain. Hal inilah yang membuat ilmuwan kesulitan untuk mengukur dampak coronavirus pada ekonomi nasional dan kesehatan masyarakat.