
Pemerintah Provinsi Banten resmi memperpanjang kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi para siswa di wilayahnya. Kebijakan ini diambil menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang belum berhenti. Alih-alih belajar di sekolah seperti biasa, murid-murid akan menjalani PJJ hingga Jumat (11/9).
Dua Hari Tambahan Hingga Jumat
Gubernur Banten Andra Soni membenarkan perpanjangan tersebut, Rabu (9/9/2026). Ia menjelaskan bahwa sebelumnya PJJ sudah digelar selama tiga hari yang dihitung sampai Rabu. Kini pemerintah provinsi menambahkan dua hari lagi sehingga pembelajaran daring bertahan sampai Jumat.
“Kemarin tiga hari sampai Rabu, ditambah dua hari sampai Jumat (11/9). Perkembangan berikutnya kita pantau,” kata Andra.
Dengan kata lain, keputusan lanjutan soal kegiatan belajar mengajar akan sepenuhnya menyesuaikan perkembangan situasi gunung. Bila kondisi membaik, siswa dapat kembali beraktivitas di sekolah seperti sebelumnya.
Kabar baiknya, intensitas erupsi Anak Krakatau belakangan menunjukkan penurunan jika dibandingkan kondisi pada Sabtu (5/9) dan Minggu (6/9) yang lalu. Meski demikian, Andra tetap mengimbau warga untuk tidak terlalu lama beraktivitas di luar ruangan. Langkah kehati-hatian ini penting supaya paparan abu vulkanik dapat ditekan seminimal mungkin.
Imbauan tersebut selaras dengan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Sesuai keterangan Andra, PVMBG masih melarang siapa pun untuk mendekati gunung dalam radius 3 kilometer. Selain itu, masyarakat diminta memakai masker setiap kali berada di luar ruangan sebagai pelindung pernapasan.
“Rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) itu masih memberikan rekomendasi untuk melarang siapa pun mendekati radius 3 km. Kemudian dianjurkan, disarankan, diminta kepada masyarakat untuk menggunakan masker saat berada di luar ruangan,” ujarnya.
Uji Mutu Udara Segera Dilakukan
Pemprov Banten juga tidak ingin mengandalkan perkiraan belaka. Andra meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) melakukan pengujian kualitas udara. Tujuannya jelas, yaitu memastikan apakah kondisi udara di wilayah terdampak sudah benar-benar membaik atau masih perlu diwaspadai.
“Dan kami juga dengan beberapa dinas terkait setelah meminta beberapa update, kemudian saya juga meminta kepada Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan uji mutu udara,” katanya.
Hasil pengujian mutu udara ini kelak menjadi salah satu dasar pertimbangan pemerintah provinsi dalam menentukan langkah berikutnya, termasuk soal kapan PJJ diakhiri.
Gunung Masih Berstatus Siaga
Perpanjangan PJJ dinilai krusial demi menjaga kesehatan para siswa selaku generasi penerus bangsa. Paparan abu vulkanik memang berisiko mengganggu saluran pernapasan, apalagi bagi anak-anak. Untuk memahami risikonya lebih dalam, kamu bisa membaca bahaya polusi udara bagi kesehatan.
Sampai berita ini ditulis, Gunung Anak Krakatau masih berstatus siaga atau level III. Status tersebut telah ditetapkan sejak 2 Juli 2026 dan belum turun.
“Kami terus melakukan pemantauan. Sampai saat ini, gunung masih mengeluarkan abu hitam yang pergerakannya bergeser ke arah samudera. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada,” tambah Andra.
Kabar menenangkan, pergerakan abu hitam dilaporkan bergeser ke arah samudera sehingga tidak langsung menyasar kawasan pemukiman. Meski begitu, pemerintah provinsi memastikan pemantauan akan terus berjalan. Warga Banten diimbau tetap tenang, mematuhi radius larangan, serta mengikuti informasi resmi dari instansi terkait.
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.










