
3 Partai Koalisi Belum Bersikap Soal Dukungan ke Prabowo di 2029
Sebanyak tiga partai dari tujuh komponen koalisi pemerintahan di DPR mengaku belum memutuskan posisi mereka terkait rencana mendukung kembali Presiden Prabowo Subianto pada Pilpres 2029. Ketiganya justru memilih berkonsentrasi pada penuntasan agenda prioritas pemerintahan sampai akhir masa jabatan.
Ketiga partai itu adalah Partai Demokrat, PKS, dan NasDem. Sementara sisanya, di luar Gerindra yang diketuai langsung Prabowo, sudah tegas menyatakan dukungannya.
Demokrat: Belum Ada Pembicaraan Soal Capres 2029
Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra, menjelaskan bahwa pembahasan mengenai calon presiden 2029 belum pernah masuk agenda internal partainya. Menurut dia, Ketua Umum Demokrat AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) saat ini tengah fokus menjalankan amanah sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) yang diberikan Prabowo.
“Pertama, belum pernah ada pembicaraan mengenai capres dan cawapres di 2029 di kami karena ketum kami mas AHY adalah bagaimana kami mendapatkan tugas kemarin kepercayaan dari Bapak Presiden Prabowo di pemerintahan,” ujar Herzaky kepada wartawan, Sabtu (10/10), dikutip dari detikcom.
Bagi Demokrat, soal dukungan di 2029 akan datang pada waktunya sendiri. Fokus utama kini adalah memastikan program-program pemerintahan berjalan sukses.
PKS: Keputusan Ada di Tangan Majelis Syuro
Kondisi serupa terjadi di PKS. Sekretaris Jenderal PKS, Muhammad Kholid, menegaskan bahwa urusan dukungan Pilpres 2029 sepenuhnya menjadi kewenangan Majelis Syuro, lembaga tertinggi pengambilan keputusan partai. Sampai saat ini, Majelis Syuro belum mengeluarkan keputusan apa pun terkait hal tersebut.
“Musyawarah Majelis Syuro menetapkan bahwa PKS mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sukses hingga 2029,” kata Kholid saat dihubungi, Senin (12/10).
“Terkait Pilpres 2029, musyawarah Majelis Syuro belum menetapkan keputusan,” imbuhnya.
Kholid menambahkan bahwa PKS tengah sibuk mengawal sejumlah program strategis pemerintahan, yang menurutnya merupakan bagian dari janji politik dan amanah yang harus diselesaikan dengan baik. “Kita tunaikan amanah ini sebaik-baiknya terlebih dahulu. Perkara nanti pilpres 2029 ada waktunya untuk menentukan sikap tersebut,” pungkasnya.
NasDem: Masih Digodok, Tunggu Tahapan Pemilu
Pernyataan serupa juga datang dari Sekjen Partai NasDem, Hermawi Taslim. Ia menyatakan partainya belum menarik sikap soal dukungan di 2029 karena kajian internal masih dalam proses.
Menurut Hermawi, penggodokan dukungan pilpres baru akan berjalan setelah tahapan Pemilu dan Pilpres 2029 dimulai. “Masih dalam penggodokan, menunggu dimulainya tahapan pemilu 2029-2034,” katanya.
Golkar Sudah Tegas Usung Prabowo
Berbeda dengan ketiga partai di atas, Partai Golkar sudah lama memantapkan diri. Wakil Ketua Umum Golkar, Ahmad Doli Kurnia, menyatakan partainya sejak akhir 2024 menetapkan Prabowo Subianto sebagai capres yang akan diusung pada Pilpres 2029.
“Sejak tahun akhir 2024, standing position Golkar kan jelas. Bahwa kami menghadapi Pilpres tahun 2029, kami sudah punya calon namanya Pak Prabowo,” kata Doli di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (8/10).
Meski demikian, Golkar belum menentukan sosok calon wakil presiden untuk mendampingi Prabowo. Doli menilai, keputusan tersebut pada akhirnya juga akan mempertimbangkan pilihan Prabowo sendiri sebagai capres yang diusung.
Dinamika Koalisi Menjelang 2029
Sikap berbeda di kalangan koalisi pemerintahan ini memperlihatkan dinamika politik nasional menjelang Pilpres 2029 yang masih terbilang jauh. Sebagian partai memilih menahan diri dan memprioritaskan kinerja, sementara lainnya sudah memantapkan posisi lebih awal. Baca juga: peta kekuatan koalisi partai politik di DPR dan profil Prabowo Subianto sebagai Presiden RI.
Johan Arif adalah seorang penulis dan pemerhati dinamika sosial-politik yang berfokus mengamati perkembangan isu-isu nasional terkini. Lewat karya-karyanya, Johan menyajikan ulasan kritis dan tajam mengenai panggung politik, kebijakan publik, pergerakan tokoh figur publik, hingga fenomena-fenomena viral yang menyita perhatian publik.
Dengan pendekatan jurnalistik yang lugas dan objektif, Johan berusaha membedah latar belakang di balik setiap peristiwa hangat agar pembaca mendapatkan sudut pandang yang utuh dan berimbang. Fokus penulisan Johan adalah menghadirkan literasi politik dan sosial yang mudah dicerna, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih responsif dan kritis terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya.










