Tag: Negara Arab

  • UEA Jadi Negara Arab Pertama yang Sambangi Orbit Planet Mars

    UEA Jadi Negara Arab Pertama yang Sambangi Orbit Planet Mars

    TIKTAK.ID – Uni Emirat Arab telah mengukir sejarah dengan menjadi negara Arab pertama yang sukses menyambangi orbit Planet Mars.

    Dengan menggunakan wahana bernama Hope, mereka mencapai Mars pada pukul 19.42 malam waktu setempat, kemudian setengah jam setelahnya mengirimkan sinyal pertama ke Bumi.

    Tim yang menangani ekspedisi tersebut di Mohammed Bin Rashid Space Centre lantas bersorak gembira. Pasalnya, Uni Emirat Arab berhasil tiba lebih dulu ketimbang wahana milik China dan Amerika Serikat yang juga hampir sampai di Mars. Pada Juli 2020 silam, China dan Amerika Serikat juga meluncur ke planet terdekat Bumi itu.

    “Usai 204 hari dan lebih dari 480 juta kilometer, #HopeProbe saat ini telah menangkap orbit dari Mars”, demikian bunyi akun Twitter resmi dari misi ambisius tersebut dengan Hashtag #ArabToMars, seperti dilansir Detik.com.

    Untuk diketahui, berhasil tiba di orbit Mars adalah prestasi monumental. Sebab, peluang untuk sukses hanya sekitar 50%, di mana separuh misi ke Planet Mars selama ini mengalami kegagalan.

    Lebih lanjut, selama kurang lebih 27 menit, pesawat yang dalam bahasa Arab disebut “Amal” ini harus melambatkan diri secara dramatis. Dari yang awalnya kecepatan Hope mencapai 100 ribu kilometer per jam, menjadi hanya 18 ribu kilometer per jam. Para engineer di Bumi pun hanya dapat menunggu akibat adanya delay komunikasi selama 11 menit.

    Penelitian dari wahana UEA tersebut akan menambah pengetahuan mengenai kenapa Mars kehilangan banyak udara dan air. Misi besar itu juga diharapkan bisa meningkatkan gairah bakat-bakat cemerlang di wilayah Arab untuk menekuni sains.

    Setelah itu, beberapa negara mengucapkan selamat atas pencapaian Uni Emirat Arab, salah satunya Badan Penerbangan dan Antariksa atau National Aeronautics and Space Administration (NASA). Ilmuwan Amerika diketahui turut membantu pembuatan wahana itu.

    “Selamat kepada @HopeMarsMission, karena telah tiba dengan selamat di orbit Planet Mars. Usaha keras Anda untuk mengeksplorasi Planet Merah akan menjadi inspirasi bagi yang lain mencapai bintang. Kami pun berharap bisa bergabung segera dengan Anda dengan Perseverance”, tulis NASA.

  • Pompeo Yakin Negara Arab Lain Segera Berkawan dengan Israel

    Pompeo Yakin Negara Arab Lain Segera Berkawan dengan Israel

    TIKTAK.ID – Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo meyakini banyak negara Arab yang bersedia untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.

    “Saya sangat yakin bahwa negara-negara lain akan bergabung dengan apa yang telah dilakukan oleh Emirat, Bahrain, dan Sudan, dan mengakui tempat yang tepat bagi Israel di antara negara-negara,” kata diplomat top AS itu, berbicara kepada saluran televisi al-Arabiya milik Saudi yang berbasis di Dubai dalam sebuah wawancara yang dirilis pada Minggu (22/11/20), seperti yang dikutip Sputniknews.

    “Mereka akan melakukannya karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan untuk bangsa mereka, karena peningkatan kemakmuran dan keamanan untuk negara mereka,” tambah Pompeo, tanpa merinci negara mana yang ada dalam pikirannya.

    Menurut Menteri Luar Negeri itu, “ancaman bersama dari Iran” telah membantu menyatukan Negara-negara Teluk dan Israel. Meski dia tak merinci ancaman seperti apa yang dibuat Iran untuk negara-negara Teluk.

    Sebelumnya, pada musim gugur lalu, AS menengahi kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Sudan. Paman Sam juga menawarkan kontrak senjata yang menguntungkan kepada Abu Dhabi, dan menjanjikan Khartoum bahwa Washington akan mencabut sanksi dan penunjukan “negara sponsor terorisme” terhadap Bangsa Afrika Timur Laut itu.

    Mengenai kesepakatan pengakuan Israel, Pompeo menegaskan kembali bahwa “setiap negara yang menginginkan situasi yang lebih baik bagi rakyatnya akan datang untuk mengakui Israel”.

    Pompeo juga mengkritik penolakan para pemimpin Palestina terhadap rencana perdamaian Trump, dengan mengatakan bahwa Washington “akan senang jika Palestina berdamai dengan Israel”.

    Pompeo melakukan sejumlah kunjungan kenegaraan ke Timur Tengah pada minggu ini, dan secara demonstratif mengunjungi permukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki Israel secara ilegal dan mampir di Dataran Tinggi Golan Suriah yang juga diduduki Israel. Selanjutnya, Pompeo akan mengunjungi UEA, Qatar, dan Arab Saudi pada perjalanan yang direncanakan selesai pada Senin besok.

    Pemerintahan Trump pada Januari lalu menawarkan solusi dua negara dengan pengakuan atas klaim Israel terhadap permukiman di Tepi Barat, kedaulatan Israel atas Lembah Yordania, dan pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota negara Israel. Sebagai imbalannya Trump menawarkan 50 miliar dollar untuk infrastruktur, investasi dan lingkungan Yerusalem Timur yang akan menjadi Ibu Kota Palestina.

    Para pejabat Palestina menolak mentah-mentah tawaran Trump dan mengecam rencana tersebut. Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas mengatakan Yerusalem “tidak untuk dijual” dan bahwa proposal secara keseluruhan termasuk “tong sampah sejarah”.

    Para pemimpin Palestina juga menyebut UEA dan Bahrain “mengkhianati” warga Palestina dan “menikam mereka dari belakang” dengan menandatangani kesepakatan normalisasi dengan Israel.

    Segera setelah kesepakatan normalisasi antara Israel, UEA, dan Bahrain ditandatangani pada bulan September, terungkap bahwa Amerika Serikat berencana mempermanis kesepakatan tersebut dengan menawarkan perjanjian penjualan senjata senilai $23 miliar kepada Abu Dhabi termasuk sebanyak 50 F-35 Joint Strike Fighters, 18 drone MQ-9B Reaper dan sejumlah rudal dan amunisi.

    Sudan, yang setuju untuk menormalisasi hubungan dengan Tel Aviv sebulan kemudian, menerima janji keringanan sanksi dan komitmen Washington bahwa status “negara sponsor terorisme” yang menampar Khartoum pada 1993 akan secara bertahap dicabut.

    UEA, Bahrain, dan Sudan menjadi anggota ketiga, keempat, dan kelima Liga Arab yang menormalisasi hubungan dengan Israel, dengan Mesir melakukannya pada 1979 dan Yordania menyusul pada 1994. Sedangkan 17 Anggota Liga Arab masih tidak memiliki hubungan dengan negara Zionis itu.

    Arab Saudi, negara terbesar di Teluk Arab, baru-baru ini mengindikasikan bahwa mereka tidak akan setuju untuk menormalisasi hubungan dengan Israel tanpa implementasi dari proposal Prakarsa Perdamaian Arab 2002 untuk menyelesaikan konflik Arab-Israel.

  • Kecewa Normalisasi Negara Arab dengan Israel, Palestina Keluar dari Liga Arab

    Kecewa Normalisasi Negara Arab dengan Israel, Palestina Keluar dari Liga Arab

    TIKTAK.ID – Menteri Luar Negeri Palestina mengatakan pada Selasa (22/9/20) bahwa Palestina menyatakan mundur dari kursi Ketua Pertemuan Liga Arab. Palestina juga mengutuk kesepakatan Arab untuk membangun hubungan formal dengan Israel sebagai sebuah tindakan yang tidak terhormat.

    Warga Palestina melihat kesepakatan yang ditandatangani Uni Emirat Arab dan Bahrain dengan Israel di Washington seminggu lalu sebagai sebuah pengkhianatan terhadap perjuangan mereka dan pukulan bagi upaya mereka untuk mendirikan negara merdeka di wilayah yang diduduki Israel, tulis Al Jazeera.

    Awal bulan ini, Palestina gagal membujuk Liga Arab untuk mengutuk negara-negara yang melanggar dan mulai menormalisasi hubungannya dengan Israel.

    Palestina seharusnya memimpin pertemuan Liga Arab selama enam bulan ke depan, tetapi Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad al-Maliki mengatakan pada konferensi pers di kota Ramallah, Tepi Barat bahwa mereka tidak lagi menginginkan posisi itu.

    “Palestina telah memutuskan untuk mengakui haknya untuk memimpin Dewan Liga [Menteri Luar Negeri] pada sesi saat ini. Tidak ada kehormatan melihat orang Arab terburu-buru memutuskan untuk normalisasi selama masa kepresidenannya,” kata Maliki.

    Dalam sambutannya, dia tidak menyebut secara spesifik UEA dan Bahrain, negara-negara Teluk Arab yang memiliki cara pandang yang sama dengan Israel terhadap Iran. Dia mengatakan Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit telah diberitahu tentang keputusan Palestina itu.

    Kepemimpinan Palestina menginginkan negara merdeka berdasarkan perbatasan de facto sebelum perang 1967, dengan Israel menduduki Tepi Barat dan Jalur Gaza dan mencaplok Yerusalem Timur.

    Negara-negara Arab telah lama menyerukan penarikan Israel dari tanah yang diduduki secara ilegal, solusi yang adil bagi pengungsi Palestina dan penyelesaian yang mengarah pada pembentukan negara Palestina yang layak dan merdeka, sebagai imbalan untuk menjalin hubungan dengannya.

    Dalam langkah baru menangani perpecahan internal di Palestina, pejabat dari faksi Fatah, Presiden Mahmoud Abbas yang berbasis di Tepi Barat dan gerakan Hamas yang berbasis di Gaza akan mengadakan pembicaraan rekonsiliasi di Turki pada Selasa nanti.

    Hamas merebut Jalur Gaza pada 2007 dari pasukan Fatah selama pertempuran singkat. Perbedaan atas pembagian kekuasaan telah menunda implementasi kesepakatan persatuan yang disepakati sejak saat itu.

  • Hari Hitam dalam Sejarah Negara-negara Arab

    Hari Hitam dalam Sejarah Negara-negara Arab

    TIKTAK.ID – Perdana Menteri Palestina, Mohammad Shtayeeh pada Senin kemarin mengatakan bahwa Selasa 15 September 2020 menjadi “hari hitam dalam sejarah negara-negara Arab”.

    Pernyataan itu disampaikan terkait rencana negara Teluk, Uni Emirat Arab dan Bahrain menandatangani kesepakatan normalisasi dengan Israel di Gedung Putih.

    Palestina bahkan pada pekan lalu gagal membujuk Liga Arab untuk mengutuk negara-negara Arab yang segera melakukan normalisasi dengan rezim penjajah negara Palestina, Israel. Ini membuat Palestina semakin merasa ditinggalkan oleh negara-negara Teluk Arab.

    Shtayyeh mengatakan Palestina sekarang sedang memikirkan ulang apakah akan “menyesuaikan hubungan Palestina dengan Liga Arab”, dan melepaskan diri dari ketergantungan dengan negara-negara Arab.

    “Ada sangat sedikit indikasi bahwa kepemimpinan (Palestina) sedang mempertimbangkan untuk melepaskan diri dari pendekatannya,” kata seorang analis dari International Crisis Group, Tareq Baconi kepada Reuters.

    Strategi Palestina selama ini berpusat untuk meminta pertanggungjawaban Israel di pengadilan hukum internasional, dan mencoba untuk mematahkan dominasi Amerika Serikat atas proses perdamaian Israel-Palestina, kata Baconi.

    “Dukungan Arab dan Eropa dalam strategi itu sangat penting, tetapi patut dipertanyakan, apakah Palestina akan mampu mengamankan tuntutannya ke tingkat yang dibutuhkan untuk memastikan perdamaian yang adil.”

    Namun, terlepas dari tanda-tanda pergeseran dukungan negara-negara Arab kepada Palestina, Sekretaris Jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Saeb Erekat mengatakan bahwa strategi yang mendasari Palestina untuk mencapai kemerdekaan dari Israel dengan wilayah negara di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Gaza tidak akan berubah.

    “Untuk tetap pada dasar hukum internasional, legalitas internasional, untuk mencari perdamaian berdasarkan penghentian pendudukan Israel dan solusi dua negara … kita tidak dapat meninggalkan gelanggang ini,” katanya kepada Reuters.

    Trump sendiri merasa frustrasi dengan penolakan Palestina untuk ikut ambil bagian dalam pembicaraan kesepakatan normalisasi Bahrain, UEA dengan Israel yang dipimpinnya di Gedung Putih. Dia telah berusaha merayu Presiden Mahmoud Abbas dan timnya, dan berharap Palestina akan melihat kesepakatan UEA dan Bahrain sebagai insentif untuk kembali berunding.

    Selama lebih dari dua tahun, menantu laki-laki Trump, Jared Kushner, telah mencoba agar Palestina tidak mengajukan banding kepada warga Palestina secara langsung. Kepada surat kabar Al-Quds pada 2018, dia mengatakan, “Dunia telah bergerak maju sementara Anda tertinggal. Jangan biarkan konflik kakek Anda menentukan masa depan anak-anak Anda.”

    Kepemimpinan Palestina pada awalnya terlibat dengan pemerintahan Trump untuk pembicaraan perdamaian. Hingga, kata Erekat, “Mereka menyimpulkan bahwa orang-orang ini (AS) ingin mendikte solusi, bukan menegosiasikan solusi … merekalah yang menyimpang dari hukum internasional.”

  • Makin Mesra dengan Israel, UEA Khianati Dunia Islam, Negara-negara Arab dan Kawasan serta Palestina

    Makin Mesra dengan Israel, UEA Khianati Dunia Islam, Negara-negara Arab dan Kawasan serta Palestina

    TIKTAK.ID – Delegasi AS-Israel terus melakukan marathon untuk mengokohkan hubungan diplomatik Abu Dhabi dengan Tel Aviv. Pada Senin kemarin, delegasi itu terbang langsung dari Tel Aviv ke Abu Dhabi. Itu merupakan penerbangan pertama dari Israel langsung ke negara Teluk yang menandakan hubungan keduanya semakin mesra.

    Esok harinya, Selasa (1/9/20), mereka meninggalkan Abu Dhabi, setelah kesepakatan penting mereka untuk membangun hubungan diplomatik. Pers Israel membanggakan penerbangan langsung itu, yang sarat dengan simbolisme, dan merupakan terobosan baru sebab diizinkan melintasi wilayah udara Arab Saudi, tulis France24.

    Surat kabar ternama Israel Yediot Aharonot menulis laporan bertajuk “Penerbangan Perdamaian”. Mereka menulis bahwa “tak peduli bagaimana kita melihatnya…ini adalah peristiwa bersejarah yang menarik”.

    Menantu Presiden Donald Trump sekaligus Penasihat Gedung Putih, Jared Kushner memimpin delegasi tersebut. Uni Emirat Arab dan Israel diperkirakan akan menandatangani perjanjian yang dipromotori Amerika Serikat, dan ini merupakan perjanjian pertama Israel dengan negara Teluk dan yang ketiga dengan negara Arab, di Gedung Putih dalam beberapa minggu mendatang.

    Penasihat Keamanan Nasional kedua negara, Meir Ben-Shabbat dari Israel dan Sheikh Tahnoun bin Zayed dari UEA, bergabung dengan Kushner untuk pembicaraan tentang kerja sama antara dua ekonomi Timur Tengah.

    Dalam kunjungan itu mereka membahas kerja sama di bidang investasi, keuangan, kesehatan, eksplorasi ruang angkasa, penerbangan sipil, kebijakan luar negeri serta pariwisata dan budaya.

    Israel dan UEA pada Selasa itu menandatangani protokol pertama mereka di bidang perbankan dan keuangan, menurut kantor Netanyahu.

    “Kami akan segera mengumumkan kesepakatan tambahan di bidang penerbangan, pariwisata, perdagangan dan lain-lain,” kata Perdana Menteri dalam pernyataannya.

    Israel juga mengatakan bahwa kedua belah pihak pada hari itu mengadakan pertemuan pertama mereka tentang “kemungkinan saling membuka Kedutaan”, dan terkait penerbangan komersial langsung antara negara Yahudi dan UEA yang kemungkinan akan lepas landas pada akhir tahun.

    “Tidak mengherankan jika pada akhir tahun 2020 akan ada penerbangan langsung antara Israel dan UEA,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Lior Haiat kepada situs Al-Arabiya berbahasa Inggris, milik Saudi.

    Amerika saat ini sedang menggalang kekuatan dengan mendorong lebih banyak negara Arab untuk menjadi teman Israel. Meskipun belum ada yang mengumumkan hal itu setelah UEA, namun Kushner berharap negara Arab lainnya akan berteman dengan Israel.

    “Mungkin dalam beberapa bulan lagi, bukan bertahun-tahun,” katanya ketika ditanya oleh kantor berita resmi Emirat WAM saat ia mengharapkan terobosan, menambahkan bahwa itu adalah hal yang “logis” dan semua 22 negara Arab suatu hari nanti bisa menerima Israel sebagai kawan.

    Sebaliknya, Palestina yang bertahun-tahun dijajah Israel mengutuk kesepakatan itu sebagai “menikam dari belakang” oleh negara Arab sementara mereka masih berjuang untuk kemerdekaan mereka dari jajahan Israel.

    Sementara Iran, sebagai pendukung utama kemerdekaan Palestina melontarkan pernyataan pedas atas kesepakatan itu.

    Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei melalui akun Twitternya pada Selasa kemarin mengatakan bahwa “UEA mengkhianati dunia Islam, negara-negara Arab, negara-negara Kawasan, dan Palestina”.

  • Mahathir Sarankan Sejumlah Negara Islam Gunakan Uang Emas

    Mahathir Sarankan Sejumlah Negara Islam Gunakan Uang Emas

    TIKTAK.ID – Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan, Iran, Malaysia, Turki dan Qatar sedang mempertimbangkan penggunaan emas sebagai alat tukar perdagangan di antara mereka sendiri. Hal itu menurut Mahathir untuk melindungi nilai mata uang atas sanksi ekonomi yang dapat dijatuhkan oleh negara adi kuasa di masa akan datang, seperti dilaporkan Reuters, Sabtu (21/12/19).

    Pada hari terakhir pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi Islam di Malaysia itu, Mahathir memuji Iran dan Qatar karena mampu menahan embargo ekonomi. Maka, ia melanjutkan, penting bagi dunia Islam untuk mandiri menghadapi ancaman sanksi ekonomi di masa depan.

    “Dengan disaksikan negara-negara dunia, mereka membuat keputusan sepihak untuk menjatuhkan hukuman seperti itu, Malaysia dan negara-negara lain harus selalu ingat bahwa hal itu juga dapat terjadi kepada kita,” kata Mahathir.

    Baca juga: Eropa Keluarkan Resolusi Soal Uighur, Beijing Sewot

    Negara-negara Arab yang bersekutu dengan AS, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Qatar sekitar 2 tahun lalu atas tuduhan mendukung terorisme, sebuah tuduhan yang dibantah oleh Doha. Sementara itu, Iran mendapat pukulan telak setelah Amerika Serikat menerapkan kembali sanksi ekonomi terhadapnya tahun lalu.

    “Saya telah menyarankan agar kita mengingat kembali gagasan perdagangan menggunakan dinar emas dan perdagangan barter di antara kita,” kata Mahathir, merujuk pada koin emas abad pertengahan Islam.

    Halaman selanjutnya…