Tag: kekerasan dalam rumah tangga

  • Ceramah Oki Setiana Dewi Viral, Ini Kata Komnas Perempuan

    Ceramah Oki Setiana Dewi Viral, Ini Kata Komnas Perempuan

    TIKTAK.ID – Belakangan ini isi ceramah Oki Setiana Dewi viral dan mendapat banyak kecaman, lantaran dianggap menormalkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Dalam ceramah yang diduga sudah ada sejak 2019 tersebut, Oki menceritakan kisah sepasang suami-istri di Jeddah yang terlibat pertengkaran.

    Kemudian sang suami memukul wajah istrinya hingga sang istri menangis. Ada kesempatan untuk mengadu kepada orang tua, namun si istri tidak melakukannya. Sang suami pun luluh dan menganggap istrinya sangat baik karena menutupi aib suami.

    Sementara itu, Komnas Perempuan menyayangkan isi ceramah Oki. Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi, ikut buka suara terkait isi ceramah tersebut.

    “Dari ceramah itu ada tiga poin. Pertama, tidak masalah suami memukul istri. Kedua, istri tidak boleh menceritakan kekerasan yang dialami karena dianggap aib rumah tangga, dan ketiga, tidak memercayai korban dan menilai dilebih-lebihkan,” ujar Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi, seperti dilansir detikcom, Kamis (3/2/22).

    Kemudian Siti Aminah mengingatkan Oki, sebagai pendakwah harusnya memberikan penjelasan pada jemaahnya untuk mengerti aturan hukum.

    “Mengingat perannya sebagai penceramah, maka memiliki kewajiban mendorong jemaah agar taat pada aturan hukum dan menyampaikan tafsir keagamaan yang berpihak terhadap perempuan. Kekerasan dalam bentuk apa pun tidak dibenarkan dalam Islam, termasuk suami yang menampar istri,” terang Siti Aminah.

    Siti Aminah menjelaskan, menceritakan kekerasan yang dialami kepada orang tua, bukan membuka aib suami. Sebab, dia menyebut orang tua punya peranan penting untuk memantau anak perempuannya diperlakukan dengan baik oleh pasangannya.

    “Ada lebih banyak korban yang tidak melapor atau bercerita. Korban-korban baik yang melapor ataupun tidak, bukan melebih-lebihkan apa yang dialaminya, melainkan mencoba memperoleh keadilan dan pemulihannya, termasuk mencari bantuan untuk mendapatkan bantuan serta dukungan,” ucap Siti Aminah.

    “Jadi menceritakan kekerasan dalam rumah tangga khususnya kepada orang tua bukanlah aib. Orang tua memiliki fungsi memastikan anak perempuannya diperlakukan dengan baik, termasuk membantu menyelesaikan permasalahan rumah tangga. Sama halnya saat perempuan mengakses lembaga layanan atau mengklaim keadilannya kepada sistem peradilan pidana, itu juga bukan aib,” imbuhnya.

  • Dampak Lockdown, KDRT di Amerika Latin Meningkat Tajam

    Dampak Lockdown, KDRT di Amerika Latin Meningkat Tajam

    TIKTAK.ID – Lockdown di Amerika Latin cukup membantu untuk memperlambat penyebaran Covid-19, namun memunculkan masalah lain yang cukup serius. Yaitu melonjaknya panggilan saluran bantuan darurat terkait kekerasan dalam rumah tangga di wilayah dengan hampir 20 juta perempuan dan anak perempuan menderita pelecehan seksual dan kekerasan fisik setiap tahunnya, seperti yang dilaporkan Reuters, Senin (27/4/20).

    “Lompatan kekerasan ini tidak mengejutkan kami, itu adalah pelampiasan kekerasan yang sudah ada sebelumnya di masyarakat,” kata pendiri program Korban Melawan Kekerasan di Argentina, Eva Giberti. Kelompok ini membantu menjalankan hotline bagi perempuan untuk melaporkan terjadinya kekerasan.

    “Dalam keadaan sosial normal hal ini terjadi terbatas pada tingkat tertentu”.

    Nomor saluran darurat 137 untuk korban pelecehan di Argentina yang didukung oleh Departemen Kehakiman, terjadi peningkatan 67 persen pada April dibandingkan tahun sebelumnya, setelah lockdown atau penutupan secara nasional diberlakukan pada 20 Maret.

    Baca juga: Posisi Presiden Brasil Diujung Tanduk

    UN Women atau entitas PBB untuk kesetaraan gender dalam sebuah laporannya pada Rabu mengatakan ada bukti meningkatnya kekerasan terhadap perempuan di Meksiko, Brasil, dan Kolombia. Kekerasan itu meningkat dua kali lipat dibanding jumlah pembunuhan wanita di Argentina selama karantina, mengutip sebuah observatorium perempuan di Mar del Plata.

    Sebelum pandemi, Pemerintah Argentina memperkirakan bahwa seorang wanita terbunuh setiap 23 jam sekali.

    “Dalam situasi karantina, yang terjadi adalah wanita dikurung bersama pelaku kekerasan di situasi mereka memiliki gerak yang sangat terbatas,” kata Direktur Regional UN Women Maria Noel Baeza.

    “Tahun lalu terjadi 3.800 pembunuhan di wilayah itu, berapa banyak yang akan kita dapatkan tahun ini?”

    Sementara di Chili, Menteri Perempuan negara itu mengatakan panggilan di saluran bantuan pelecehan domestik meningkat 70 persen pada akhir pekan pertama lockdown. Pemerintah telah memperkuat saluran konseling dan berupaya menjaga tempat perlindungan terbuka bagi perempuan yang berisiko.

    Halaman selanjutnya…