Tag: Diabetes pada anak

  • Kenali Gejala Diabetes pada Anak

    Kenali Gejala Diabetes pada Anak

    TIKTAK.ID – Siapa saja dapat menderita penyakit diabetes, tak terkecuali anak-anak. Diabetes sendiri adalah penyakit tidak menular kronis yang terjadi saat kadar gula darah terlalu tinggi.

    Terdapat dua jenis diabetes yang dapat dialami oleh anak-anak, yakni diabetes tipe 1 dan tipe 2. Seperti dikutip Kompas.com dari WebMD, diabetes tipe 1 terjadi ketika tubuh tidak memproduksi cukup hormon insulin. Diabetes tipe 1 juga lebih umum terjadi pada anak-anak.

    Sementara diabetes tipe 2 terjadi saat tubuh kehilangan kemampuan untuk memakai hormon insulin dengan benar. Umumnya, diabetes tipe 2 dipengaruhi oleh gaya hidup dan lebih banyak dialami orang dewasa. Akan tetapi, seiring waktu diabetes tipe 2 semakin umum terjadi pada anak-anak.

    Baca juga : Tato Tingkatkan Risiko Kanker Kulit, Ini Penjelasannya

    Adapun kasus diabetes pada anak terus meningkat. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan tren diabetes pada anak melonjak sejak 2010. Menurut data surveilans dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) IDAI, lonjakan yang terjadi dari 0,028 per-100 ribu menjadi 2 per-100 ribu pada 2023. Hal itu berarti kasus diabetes pada anak meningkat hingga mencapai 70 kali lipat.

    WebMD menjelaskan, diabetes tipe 1 cenderung dimulai pada anak-anak usia 5 tahun atau 11 tahun.

    Gejala diabetes tipe 1 pada anak awalnya dapat berupa:
    1. Mengalami rasa lapar atau haus yang ekstrem
    2. Sering buang air kecil, bahkan mengompol
    3. Mengalami kelelahan yang ekstrem
    4. Penglihatan kabur
    5. Mudah marah atau terjadi perubahan perilaku
    6. Terdapat infeksi jamur vagina pada gadis praremaja
    7. Muncul ruam popok pada bayi.

    Baca juga : Viral Rajin Makan Kimchi Diklaim Bikin Kulit Glowing-Bebas Jerawat, Ini Kata Dermatolog 

    Walaupun diabetes tipe 2 lebih umum terjadi pada orang dewasa, tapi anak-anak sering juga mengalaminya akibat obesitas. Gejala diabetes yang mungkin muncul pada tipe 2 mungkin tak jauh berbeda dengan tipe 1, di antaranya:
    1. Merasa lapar atau haus yang ekstrem
    2. Lebih sering buang air kecil
    3. Merasa kelelahan yang ekstrem
    4. Penglihatan kabur
    5. Kulit menjadi gelap, khususnya di sekitar leher, selangkangan, dan ketiak
    6. Terjadi penurunan berat badan yang tidak diinginkan (hal ini lebih sering terjadi pada diabetes tipe 1)
    7. Mengalami infeksi berulang.

    Baca juga : Ini Pilihan Buah yang Baik Dimakan Saat Perut Kosong

    Bila melihat anak-anak Anda mengalami gejala diabetes tipe 1 atau tipe 2, maka segera memeriksakannya ke dokter menjadi langkah terbaik.

  • Waspadai Gejala Diabetes pada Anak

    Waspadai Gejala Diabetes pada Anak

    TIKTAK.ID – Penyakit diabetes umumnya menyerang dewasa dan orang tua. Akan tetapi, saat ini diabetes juga menyerang anak-anak. Beberapa waktu lalu, IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) mengungkapkan bahwa berdasarkan data pada 2023, kasus diabetes pada anak-anak meningkat hingga 70 kali lipat sejak 2010.

    Usia anak-anak yang menderita diabetes juga beragam, yakni mulai dari usia 10 sampai 14 tahun. Bahkan, balita yang masih berusia 0 sampai 4 tahun pun kemungkinan dapat terkena diabetes.

    Dokter Spesialis Anak, dr. Leonirma Tengguna, M.Sc, Sp.A, menjelaskan bahwa terdapat sejumlah gejala awal yang bisa diketahui bagi penderita diabetes pada anak, yaitu 3P; Poliuri, Polidipsi, dan Poliphagi.

    “Gejala awal diabetes adalah 3P yaitu Poliuri, banyak buang air kecil. Kemudian Polidipsi, banyak minum, dan yang ketiga itu Poliphagi, banyak makan. Selain 3P ini juga disertai dengan tanda-tanda yang paling sering yakni penurunan berat badan yang tidak disertai dengan penyebab yang jelas. Namun kalau gejala lain yang bisa terjadi adalah misalnya luka jadi susah sembuh, dan penglihatan kabur,” ujar dr. Leonirma dalam program e-Life Jumat (3/3/23) lalu, seperti dilansir detik.com.

    “Gejala 3P ini tak hanya pada orang dewasa, tapi di anak-anak juga sama, gejala diabetes 3P ini ada. Seperti yang kita ketahui, diabetes itu tipenya ada banyak, dan salah satu tanda yang bisa terjadi misalnya pada diabetes tipe 2, ada tanda resistensi insulin ya. Tanda yang paling mudah, terdapat penebalan lipatan kulit, khususnya yang mudah dideteksi pada kulit bagian leher,” imbuh dr. Leonirma.

    Menurut dr. Leonirma, cara mendeteksi diabetes pada anak dapat dilihat dari lipatan kulit pada leher sang anak. Dia menyebut tampak dari warna dan tekstur kulit yang lebih tebal daripada umumnya.

    “Biasanya hal ini terjadi pada anak yang gemuk atau obesitas. Kita lihat saja di belakang lehernya itu yang paling banyak kelihatan dari luar, lehernya berwarna hitamnya berbeda dengan leher yang kotor. Warnanya lebih hitam dan kulitnya juga lebih tebal di daerah leher,” jelas dr. Leonirma.

  • Orang Tua Harus Hindari Kebiasaan Ini, Bisa Picu Diabetes pada Anak

    Orang Tua Harus Hindari Kebiasaan Ini, Bisa Picu Diabetes pada Anak

    TIKTAK.ID – Kebiasaan orang tua dapat memicu diabetes pada anak, khususnya diabetes tipe 2. Tidak seperti tipe 1, diabetes tipe 2 dipicu oleh gaya hidup yang tidak sehat. Dokter anak subspesialis endokrinologi, Jose R.L Batubara menjelaskan bahwa pemicu diabetes tipe 2, pada anak maupun orang dewasa, sebenarnya sama.

    “Makan junk food, nonton TV terlalu lama, kurang olahraga, sama seperti orang dewasa. Kebanyakan main gawai, bukan olahraga,” ungkap Jose, seperti dilansir CNNIndonesia.com, pada Selasa (7/2/23).

    Di luar itu, tanpa disadari sejumlah kebiasaan orang tua turut berpotensi memengaruhi risiko diabetes pada anak. Berikut ini di antaranya:

    1. Orang tua memberi anak banyak asupan gula

    Gula memang penting bagi tubuh sebagai sumber energi. Akan tetapi, orang tua sebaiknya lebih mengatur konsumsi gula untuk anak. Jose menyarankan jumlah karbohidrat atau sumber energi anak hanya sebesar 40 persen dari kebutuhan kalori harian.

    Jose mengatakan karbohidrat juga akan diolah jadi glukosa dalam tubuh dan punya indeks glikemik lebih rendah dari gula biasa. Sumber karbohidrat juga sangat bervariasi, seperti nasi, sagu, atau kentang.

    1. Makanan sebagai iming-iming supaya anak tidak rewel

    Sebaiknya orang tua tidak memakai makanan dan minuman, terutama yang tinggi kalori, sebagai iming-iming supaya anak tidak rewel.

    Menurut psikolog anak dan remaja di Personal Growth, Monica Sulistiawati, banyak orang tua yang memilih cara mudah untuk meredakan anak rewel. Dia menyebut salah satu cara termudah yaitu memberikan makanan. Padahal, hal itu tak hanya berisiko membuat anak jadi kegemukan, tapi juga ada efek lain kepada mental yang dipengaruhi oleh kebiasaan tersebut.

    “Secara tidak langsung orang tua memberikan efek pembelajaran kalau rewel itu boleh, menangis itu boleh. Nantinya anak akan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan,” terang Monica, mengutip CNNIndonesia.com, Rabu (9/2/23).

    1. Makanan dijadikan sebagai hadiah

    Ada sejumlah orang tua yang menjadikan makanan sebagai reward atau hadiah atas prestasi anak. Monica menilai memberikan apresiasi atas prestasi anak tidak salah, namun dia tidak menganjurkan makanan dijadikan hadiah.

    Monica memaparkan hal itu bisa membuat anak menganggap bahwa dengan prestasi atau keberhasilan, ia bisa makan sepuasnya. Kondisi tersebut akan berdampak negatif saat anak sudah dewasa, seperti sulit mengendalikan perilaku makan, gangguan psikologis atau gangguan makan misalnya bulimia atau anoreksia.

  • Waspadai Penyebab Diabetes 2 pada Anak

    Waspadai Penyebab Diabetes 2 pada Anak

    TIKTAK.ID – Umumnya, diabetes tipe 2 dikaitkan dengan penyakit yang hanya bisa dialami orang dewasa atau kalangan lanjut usia (lansia). Padahal, penyakit ini dilaporkan telah menjadi lebih umum terjadi pada usia muda, termasuk pada anak-anak.

    Seperti dilansir Kompas.com, berikut ini sejumlah faktor risiko penyebab diabetes tipe 2 pada anak yang perlu diwaspadai:

    1. Kelebihan berat badan
      Kelebihan berat badan adalah salah satu faktor risiko yang kuat untuk diabetes tipe 2 pada anak-anak. Pasalnya, makin banyak jaringan lemak yang dimiliki anak, terutama di sekitar perut, kian resisten pula sel tubuh mereka terhadap insulin.
    2. Tidak aktif bergerak
      Jika anak kurang aktif, maka makin besar risiko mereka terkena diabetes tipe 2. Sebab, aktivitas fisik akan membantu anak-anak mengontrol berat badan, menggunakan glukosa sebagai energi, dan membuat sel-sel anak lebih responsif terhadap insulin.
    3. Riwayat keluarga
      Risiko anak-anak terkena diabetes tipe 2 akan meningkat bila mereka mempunyai orang tua atau saudara kandung dengan penyakit tersebut.
    4. Ras atau etnis
      Walaupun belum diketahui alasannya, tapi orang-orang tertentu, termasuk orang kulit hitam, Hispanik, Indian Amerika, dan Asia Amerika dilaporkan lebih mungkin mengembangkan diabetes tipe 2.
    5. Usia dan jenis kelamin
      Ada banyak anak yang mengembangkan diabetes tipe 2 di awal masa remaja mereka. Remaja perempuan disebut-sebut lebih mungkin untuk mengembangkan diabetes tipe 2 ketimbang remaja laki-laki.
    6. Berat badan lahir rendah dan lahir dari ibu dengan diabetes gestasional
      Jika anak memiliki berat badan lahir rendah dan lahir dari ibu yang menderita diabetes gestasional selama kehamilan, maka keduanya terkait dengan risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2.
    7. Kelahiran prematur
      Bayi yang lahir prematur sebelum usia kehamilan 39-42 minggu disebut mempunyai risiko lebih besar terkena diabetes tipe 2.

    Meski begitu, Anda perlu menyadari bahwa beberapa faktor risiko penyebab diabetes tipe 2 pada anak di atas masih bisa diubah.

    Pilihan gaya hidup yang sehat akan membantu mencegah diabetes tipe 2 pada anak.