Tag: BWF

  • Kronologi Kasus Match Fixing Delapan Pebulutangkis Indonesia

    Kronologi Kasus Match Fixing Delapan Pebulutangkis Indonesia

    TIKTAK.ID – Federasi Bulutangkis Dunia atau Badminton World Federation (BWF) memberikan sanksi kepada delapan pebulutangkis Indonesia terkait kasus match fixing. Berikut kronologinya.

    Delapan orang itu yakni Hendra Tandjaya, Ivandi Danang, Androw Yunanto, Sekartaji Putri, Mia Mawarti, Fadilla Afni, Aditiya Dwiantoro, dan Agripinna Prima Rahmanto Putra.

    Menurut BWF, para pemain itu saling mengenal dan berkompetisi di ajang internasional level bawah sebagian besar Asia hingga 2019. Diketahui mereka terbukti melakukan pelanggaran pada peraturan integritas BWF mengenai pengaturan pertandingan, manipulasi pertandingan, dan perjudian dalam bulutangkis.

    Agrippina lantas menjelaskan alasan namanya ada dalam delapan daftar pemain meski tak terlibat di pertandingan yang terindikasi match fixing.

    “Pertama saya bertemu HT (Hendra Tandjaya) di Vietnam Open 2017, bertemu langsung di GOR tempat pertandingan. Tapi sebelumnya saya tidak mengenal dia,” ujar jebolan pelatnas Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) itu melalui chanel Youtubenya, Agrippina and Friends.

    Agri menyebut HT meminta nomor handphonenya selepas pertandingan. Kemudian Agrippina mengklaim pada malam harinya, HT mengirimkan pesan singkat kepada Agri untuk mengalah di sebuah pertandingan. HT juga menjanjikan uang sebesar Rp13 juta.

    “Tapi alhamdulillah masih bisa saya tolak, karena saya kan kerja di bulutangkis, masa saya melanggar aturan bulutangkis. Lalu mau mencari duit di mana?” ucap Agri.

    “Tiba-tiba (kemudian hari) HT ditangkap BWF. Nah terus dia digeledah. Ada handphone-nya digeledah dilihat isinya apa saja. Berhubung saya pernah chat dengan HT, jadi saya dikaitkan juga dalam kasus ini (HT). Tapi saya sudah konfirmasi ke BWF saya telah menolak dan BWF juga sudah jelas,” Agrippina membela diri.

    Ia menyatakan meski tak terlibat dalam tindakan ilegal di olahraga itu, namun ia mengakui punya kesalahan karena tidak melaporkan HT, hingga akhirnya dianggap bersalah oleh BWF.

    “Bagi BWF, salahnya saya itu bukan karena saya bagian dari match fixing, tapi karena tidak melaporkan orang itu (HT) yang menawarkan match fixing,” terangnya.

    Agri sendiri telah dijatuhkan sanksi berupa skorsing 6 tahun dan denda 7000 dolar AS atau sekitar Rp98 juta. Ia pun berencana mengajukan banding.

    Sedangkan Mia, dia dituduh menyetujui dan menerima uang sebesar Rp10 juta dari hasil perjudian, tidak melaporkan terjadi perjudian kepada BWF, serta tidak hadir dalam wawancara atau undangan investigasi oleh BWF. Untuk itu, Mia di-skorsing 10 tahun tidak boleh terlibat dalam pertandingan dan denda 10.000 dolar AS.

    Mia juga berencana mengajukan banding.

  • Empat Ajang Badminton Dibatalkan BWF pada Bulan September

    Empat Ajang Badminton Dibatalkan BWF pada Bulan September

    TIKTAK.ID – Federasi Badminton Dunia (BWF) melakukan pembatalan terhadap empat turnamen pada bulan September tahun ini disebabkan pandemi wabah virus Corona (Covid-19).

    Keempat turnamen itu adalah: China Open (Super 1000), Japan Open (Super 750), Korea Open (Super 500), dan Taipei Open (Super 300).

    Mulanya, Taipei Open bakal diselenggarakan pada 1-6 September, Korea Open pada 8-13 September, lalu disusul China Open pada 15-20 September, dan Japan Open pada 22-27 September. BWF membatalkan beberapa ajang itu dengan alasan kesehatan.

    “Keputusan membatalkan turnamen ini diputuskan demi kepentingan kesehatan para pemain, penonton, relawan serta anggota asosiasi,” terang Sekretaris Jenderal BWF, Thomas Lund sebagaimana dilansir CNN Indonesia mengutip situs resmi BWF.

    “Kami sangat kecewa harus membatalkan turnamen, namun merasa kesejahteraan semua orang yang terlibat adalah yang paling penting kini,” ujar Lund melanjutkan.

    Walaupun kecewa, organisasi yang telah berdiri sejak 1934 itu senantiasa mengapresiasi pihak anggota asosiasi yang sudah berjuang keras agar dapat menyelenggarakan turnamen tersebut. Bagi Lund, anggota asosiasi yang bakal menjadi tuan rumah turnamen-turnamen itu sudah memperlihatkan komitmennya kepada BWF.

    “Kami berbagi kekecewaan dengan banyak orang di seluruh dunia yang menantikan kembalinya badminton, dan menghargai seluruh dukungan terus-menerus dari para penggemar serta mitra kami, karena kami senantiasa menavigasi sisa musim 2020,” jelas Lund.

    Berikutnya BWF beserta para mitra secara ketat bakal memantau dan mematuhi seluruh pedoman Pemerintah seputar penyelenggaraan turnamen di waktu mendatang. BWF juga bakal memperanyar sisa turnamen tahun 2020.

    “BWF bakal terus menyesuaikan diri dengan perubahan guna memastikan seluruh kegiatan badminton 100 persen melaksanakan aturan dan peraturan Organisasi Kesehatan Dunia [WHO], otoritas kesehatan setempat, juga pembatasan perjalanan internasional serta domestik,” urai Lund.

    Pada tahun ini, turnamen level Super 1000 yang pertama kali mengalami pembatalan adalah China Open disebabkan oleh pandemi wabah virus Corona. Sebelumnya, ajang All England yang diselenggarakan di tanggal 11-15 Maret berhasil berlangsung hingga selesai.