
Mohammad Ahsan: Profil Lengkap Ganda Putra The Daddies
Mohammad Ahsan termasuk sosok yang mengubah wajah ganda putra Indonesia selama satu dekade. Pria kelahiran Palembang ini mengoleksi tiga gelar juara dunia bersama Hendra Setiawan. Julukan The Daddies yang melekat pada mereka bahkan menjadi ikon tersendiri bagi pecinta bulu tangkis.
Artikel ini merangkum biodata, perjalanan karier, serta daftar prestasinya secara lengkap. Semua data disarikan dari catatan Wikipedia dan liputan media nasional. Sebagai perbandingan era, jejak profil Taufik Hidayat juga layak dibaca karena sama-sama menorehkan sejarah bagi Indonesia.
Biodata Mohammad Ahsan
Sebelum masuk ke kisah kariernya, berikut tabel biodata singkat yang merangkum data dirinya. Tabel ini cocok jadi rujukan cepat untuk tugas sekolah maupun penelusuran umum.
| Data | Keterangan |
|---|---|
| Nama lengkap | Mohammad Ahsan |
| Tanggal lahir | 7 September 1987 |
| Tempat lahir | Palembang, Sumatera Selatan |
| Tinggi badan | 173 cm |
| Berat badan | 68 kg |
| Tangan yang dipakai | Kanan |
| Nomor/event | Ganda putra |
| Orang tua | Tumin Atmadi dan Siti Rohanah |
| Pendidikan | Universitas Budi Luhur, jurusan Ekonomi (lulus 2011) |
| Klub | PB Djarum, Kudus |
| Pasangan beregu | Hendra Setiawan (terakhir), Bona Septano (awal) |
| Status | Resmi gantung raket pada 2025 |
Data di atas menegaskan dua hal. Pertama, ia menghabiskan hampir seluruh kariernya di nomor ganda putra. Kedua, perjalanan dari Palembang hingga puncak dunia diawali lewat jalur pembinaan klasik Indonesia.
Masa Kecil dan Awal Masuk PB Djarum
Ahsan lahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara. Orang tuanya adalah pasangan Tumin Atmadi dan Siti Rohanah. Ia memiliki dua kakak bernama Nisa Tartiela dan M. Asykuru.
Kecintaannya pada bulu tangkis muncul sejak usia enam tahun. Ia kerap menonton pertandingan di televisi dan bermimpi naik podium seperti para pemain yang dilihatnya. Ricky Subagja menjadi idolanya pada masa itu.
Setelah lulus SMP, ia hijrah ke Jakarta untuk menekuni olahraga tersebut. Pendidikan formalnya berlanjut di SMA Ragunan, sekolah khusus olahragawan pelajar. Jalur serupa pernah dilewati profil Susi Susanti yang juga dibesarkan lewat pembinaan klub di ibu kota.
Ia masuk PB Bina Bangsa sebelum diterima PB Djarum pada 2007. Klub di Kudus itu terkenal melahirkan banyak pebulu tangkis top. Sambil berlatih, ia menyelesaikan kuliah Ekonomi di Universitas Budi Luhur hingga lulus pada 2011.
Karier Awal Bersama Bona Septano
Panggung internasional pertama Ahsan datang bersama Bona Septano. Duo ini meraih perunggu Kejuaraan Asia Junior 2005 di Jakarta. Gelar internasional pertamanya menyusul lewat kemenangan di Vietnam International 2007.
Tahun 2008 mereka menembus final Jepang Terbuka, meski harus puas menjadi pemenang kedua. Pada ajang universitas, keduanya menyumbang emas Kejuaraan Dunia Universitas 2008 di Braga, Portugal. Trofi SEA Games 2011 di Jakarta-Palembang juga diraih lewat kemenangan atas Markis Kido dan Hendra Setiawan.
Hasil penting lain tiba pada Kejuaraan Dunia 2011 di London. Duo ini pulang membawa medali perunggu. Pasangan ini juga sempat menduduki peringkat keenam dunia, catatan tertinggi era kerja sama mereka.
Olimpiade London 2012 menjadi panggung Olimpiade pertamanya. Perjalanannya berhenti di perempat final setelah kalah dari wakil Korea. Namun fondasi yang terbentuk membuatnya siap melangkah ke level yang lebih tinggi.
Era The Daddies Bersama Hendra Setiawan
Pasangan Ahsan dan Hendra Setiawan resmi dibentuk pada 2013. Kimia keduanya langsung menyala di turnamen pembuka musim. Gelar Super Series pertama hadir di Malaysia Terbuka 2013 setelah mengalahkan Lee Yong-dae dan Ko Sung-hyun.
Sisa tahun itu menjadi panen besar. Mereka menambah gelar di Indonesia Terbuka, Singapura Terbuka, Jepang Terbuka, hingga Super Series Finals. Puncaknya, Ahsan mengangkat trofi juara dunia perdana di Guangzhou 2013 lewat kemenangan 21-13 dan 23-21 atas pasangan Denmark. Peringkat satu dunia BWF pun tersandera pada Desember 2013.
Musim 2014 tetap berjalan mulus. All England 2014 jatuh ke pangkuan mereka lewat kemenangan 21-19 dan 21-19 atas pasangan Jepang Hiroyuki Endo dan Kenichi Hayakawa. Emas Asian Games 2014 di Incheon menyusul setelah pertarungan tiga gim melawan wakil Korea.
Gelar juara dunia kedua datang pada 2015 di Istora Senayan. Bermain di depan publik sendiri, Mohammad Ahsan menutup final dengan angka 21-17 dan 21-14. Gelar itu menjadikannya juara dunia ganda putra dua kali beruntun.
Pasangan ini sempat dipisahkan pada 2017. Mohammad Ahsan tetap tampil gemilang bersama Rian Agung Saputro hingga menembus final Kejuaraan Dunia Glasgow. Reuni bersama Hendra Setiawan pada 2018 langsung membuahkan juara Singapura Terbuka.
Era 2019 menjadi klimaks terbaik keduanya. Ahsan mengangkat trofi All England 2019 setelah gulat tiga gim melawan wakil Malaysia. Kejuaraan Dunia Basel 2019 lalu menghadiahkan gelar dunia ketiga lewat laga sengit dengan skor 25-23, 9-21, dan 21-15.
Tahun itu ditutup dengan kejuaraan BWF World Tour Finals. Menariknya, beberapa gelar runner-up lain justru jatuh di tangan rekan senegara Kevin dan Marcus. Duel internal ini membuat ganda putra Indonesia semakin ditakuti di pentas dunia.
Tiga Olimpiade dan Gelar Timnas
Ahsan tampil di tiga Olimpiade. London 2012 ia jalani bersama Bona Septano hingga perempat final. Rio 2016 dan Tokyo 2020 ia tempuhi bersama Hendra Setiawan.
Di Rio 2016, duet yang tampil sebagai unggulan kedua itu harus pulang lebih awal dari babak penyisihan grup. Hasil terbaiknya di Tokyo 2020 adalah posisi keempat. Duet The Daddies kalah dalam perebutan medali perunggu oleh Aaron Chia dan Soh Wooi Yik dari Malaysia. Meski begitu, konsistensi tiga periode Olimpiade menunjukkan daya tanding luar biasa.
Gelar timnas berlimpah di luar Olimpiade. Emas Piala Thomas 2020 di Aarhus menjadi buah manis bersama tim putra Indonesia. Mohammad Ahsan juga mengoleksi emas Kejuaraan Beregu Asia pada 2016, 2018, dan 2020.
Medali Piala Sudirman menyumbang empat perunggu untuk Indonesia. Semuanya diraih pada 2009, 2011, 2015, dan 2019. Perak Piala Thomas 2010, 2016, dan 2022 melengkapi lembar layanan bagi negara.
Koleksi Medali dan Penghargaan
Lembar prestasi Ahsan sangat panjang di level dunia. Daftar berikut merangkum gelar-gelar utamanya dari berbagai ajang.
- Emas Kejuaraan Dunia 2013, 2015, dan 2019, ditambah perak 2017 serta 2022 dan perunggu 2011
- Emas All England 2014 dan 2019
- Emas Asian Games 2014, ditambah perunggu 2010
- Emas Piala Thomas 2020, perak 2010, 2016, 2022, serta perunggu 2014 dan 2018
- Emas BWF World Tour Finals 2019
- Lima gelar Super Series pada 2013, plus Super Series Finals 2013 dan 2015
- Emas SEA Games 2009 dan 2011, serta emas PON 2012 untuk Jawa Tengah
- Perunggu Kejuaraan Dunia Junior Asia 2005 bersama Viki Indra Okvana
Penghargaan individual juga menghiasi perjalanannya. Duet ini dinobatkan sebagai Atlet Putra Terbaik AORI pada 2014 dan 2015. KONI Award 2014, Golden Award SIWO PWI 2020, serta Gatra Awards 2021 menyusul kemudian. Nama mereka bahkan masuk nominasi BWF Player of the Year 2019 bersama Hendra.
Gaya Bermain dan Julukan The Daddies
Julukan The Daddies melekat sejak keduanya dipanggil demikian oleh pecinta bulu tangkis Indonesia. Nama itu lahir karena usia dan status mereka yang sudah menjadi ayah. Mohammad Ahsan sendiri dikenal lewat smes keras dari area belakang lapangan.
Perpaduannya dengan kecerdikan Hendra Setiawan di depan net melahirkan permainan sulit ditebak. Lawan harus menghadapi tekanan pukulan rata dan akal-akalan tipis di jaring. Kombo inilah yang membuat Mohammad Ahsan bertahan di puncak hingga usia matang.
Daya tarik komersialnya pun tetap kuat. Waroeng Steak and Shake menjadi sponsor utama duet ini selama beberapa musim. Dukungan itu menegaskan tempat Mohammad Ahsan di hati penggemar dan industri olahraga nasional.
Kehidupan Pribadi dan Momen Gantung Raket
Mohammad Ahsan menikahi Christine Novitania pada 2013. Pasangan itu dikaruniai tiga anak bernama King Arsakha Ahsan, Chayra Maritza Ahsan, dan Aisyah Nayyara Ahsan. Dedikasinya pada negara juga diapresiasi lewat pengangkatan sebagai PNS Kementerian Pemuda dan Olahraga pada 2022.
Bab karier profesional ditutup lewat acara resmi gantung raket pada 2025. Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan menutup perjalanan panjang itu bersama keluarga masing-masing. Jejak legenda seperti profil Taufik Hidayat kini bertambah dengan nama mereka.
Warisan The Daddies diteruskan generasi muda Indonesia. Tunggal putra hari ini dijaga sosok seperti profil Jonatan Christie yang rutin tampil di pentas besar. Standar yang ditinggalkan Mohammad Ahsan menjadi tolok ukur bagi pasangan ganda baru.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa kali Mohammad Ahsan juara dunia?
Tiga kali, yaitu pada 2013, 2015, dan 2019. Ia juga menambah dua perak serta satu perunggu dari ajang yang sama.
Siapa pasangan Mohammad Ahsan?
Pasangan paling melekatnya adalah Hendra Setiawan sejak 2013. Sebelumnya ia berduet dengan Bona Septano dan sempat tampil bersama Rian Agung Saputro pada 2017.
Apakah Mohammad Ahsan sudah pensiun?
Ya. Ia resmi gantung raket pada 2025 bersama Hendra Setiawan melalui acara perpisahan khusus. Keduanya menutup karier setelah lebih dari satu dekade menjadi andalan Indonesia.
Berapa anak Mohammad Ahsan?
Tiga anak hasil pernikahannya dengan Christine Novitania pada 2013. Mereka bernama King Arsakha Ahsan, Chayra Maritza Ahsan, dan Aisyah Nayyara Ahsan.
Apa julukan Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan?
The Daddies, julukan dari pecinta bulu tangkis Indonesia. Nama itu merujuk pada usia serta status mereka yang sudah menjadi ayah.










