Tag: Perang Dunia III

  • Trump Memilih Berbicara Lembut dalam Pidato Pertamanya Usai Serangan Iran

    Trump Memilih Berbicara Lembut dalam Pidato Pertamanya Usai Serangan Iran

    TIKTAK.ID – Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato yang ditunggu-tunggu warga Amerika, saat negara itu berada di ambang perang dengan Iran. Pidato Trump dilakukan beberapa jam setelah rudal Iran menyerang dua pangkalan AS di Irak.

    Berbicara dari Gedung Putih, Trump membatalkan ancaman  serangan lebih lanjut terhadap Iran, dan menegaskan bahwa mundurnya Teheran “hal yang baik bagi semua pihak.”

    Trump, bagaimanapun, bersumpah untuk menjatuhkan sanksi ekonomi baru pada Republik Islam Iran, selain ribuan atau lebih yang diberlakukan sejak AS menarik diri dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA, atau kesepakatan nuklir Iran) pada tahun 2018. ” Sanksi yang tegas akan diberikan,” ungkapnya, “hingga Iran mengubah perilakunya.”

    Baca juga: Update: Terkait Serangan Iran Ke Pangkalan Amerika, Khamenei: Hanya “Tamparan Di Wajah” AS

    “Iran harus meninggalkan ambisi nuklirnya dan mengakhiri dukungannya untuk terorisme,” lanjut Trump. “Sudah tiba waktunya bagi Inggris, Jerman, Prancis, Rusia dan Cina untuk mengakui kenyataan ini. Mereka sekarang harus melepaskan diri dari sisa-sisa JCPOA.”

    Sementara Trump baru-baru ini menyatakan bahwa AS akan menargetkan 52 situs Pemerintah dan budaya milik Iran jika kepentingan Amerika diserang, tetapi kemudian ia menyampaikan  dengan nada yang lebih rekonsiliatif dalam pidatonya pada hari Rabu. Setelah membual tentang “rudal besar” Amerika, Trump menyarankan bahwa di bawah kesepakatan baru, Iran bisa menjadi “negara besar,” dan dapat bekerja sama dengan AS dalam bidang yang saling menguntungkan.

    “ISIS [Negara Islam, IS, ISIL] adalah musuh alami Iran,” katanya. “Penghancuran ISIS baik untuk Iran. Dan kita harus bekerja bersama dalam hal ini dan banyak prioritas bersama lainnya. “

    Baca juga: BREAKING NEWS: IRGC Menghujani Pangkalan Udara AS di Irak dengan Rudal Sebagai Balasan Atas Pembunuhan Jenderal Soleimani

    Pada hari Rabu pagi, Iran menghujani serangan rudal di dua pangkalan militer yang digunakan oleh pasukan Amerika di Irak. Serangan rudal itu terjadi sebagai balasan atas pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani oleh AS di Baghdad pada hari Jumat. Soleimani, menurut Washington, telah mengatur serangkaian serangan terhadap pasukan Amerika di Irak, dan diduga merencanakan serangan lebih lanjut melalui milisi yang didukung Iran di negara itu. Teheran menyebut pembunuhan itu sebagai tindakan “terorisme internasional,” bersumpah untuk membalas dendam.

    Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menggambarkan serangan rudal itu sebagai “balasan proporsional” yang diambil untuk membela diri. Zarif menambahkan bahwa Teheran tidak bermaksud untuk meningkatkan tensi ketegangan, tetapi pihaknya mengancam akan menargetkan sekutu-sekutu AS di kawasan itu jika Washington merespon Iran dengan serangan balasan.

    Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan bahwa serangan itu berfungsi sebagai “tamparan di wajah” untuk Amerika Serikat, tetapi belum “cukup” untuk menghapus “kehadiran Amerika yang korup di wilayah tersebut.”

  • Dampak Paling Ngeri Bagi Indonesia Bila Terjadi Perang Dunia III

    Dampak Paling Ngeri Bagi Indonesia Bila Terjadi Perang Dunia III

    TIKTAK.ID – Serangan udara Amerika Serikat (AS) di Bandara Internasional Baghdad, Irak, menewaskan petinggi Garda Revolusi Iran, Letnan Jenderal Qassem Soleimani, yang juga Komandan Pasukan Quds. Akibat serangan itu, hubungan antara Amerika dan Iran makin meruncing. Dunia pun sudah dihadapkan dengan ancaman meletusnya Perang Dunia Ketiga atau World War III.

    Ekonom Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menyatakan jika benar Perang Dunia Ketiga meletus karena peristiwa tersebut, perekonomian Indonesia terancam.

    Mengacu proyeksi ekonomi dalam APBN 2020, harga minyak diprediksi US$ 63 per barel. Harga minyak yang sudah melampaui prediksi APBN 2020 ini tentu bisa meningkatkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), terutama yang non-subsidi.

    Baca juga: Bila Perang Dunia III Jadi Meletus, Inilah Negara-Negara Paling Aman Ditinggali

    “Dampak ketegangan AS dan Iran paling cepat dirasakan ke harga minyak mentah dunia,” ujar Bhima dilansir Detik.com, Minggu (5/1/20).

    Pasca pembunuhan Qassem, minyak brent melonjak 3,6% ke level US$ 68,60 per barel pada Jumat (3/1/20). Minyak berjangka AS juga naik mencapai 3,1% ke US$ 63,05 per barel. Hal itu merupakan kenaikan terbesar dalam sebulan terakhir dan harga tertinggi sejak September 2019.

    Menurut Bhima, harga minyak mentah dunia meroket lebih dari 4% dan berimbas pada beban subsidi BBM dan tarif listrik yang bengkak di awal 2020. Tak hanya itu, harga BBM non-subsidi jenis Pertamax, Pertalite maupun Dex pun berisiko mengalami penyesuaian.

    Halaman selanjutnya…