Tag: Ketua DPP PKS

  • Takut Kewalahan, PKS Minta Presidential Threshold Diturunkan Jadi 10 Persen

    Takut Kewalahan, PKS Minta Presidential Threshold Diturunkan Jadi 10 Persen

    TIKTAK.ID – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) diketahui meminta ambang batas pemilihan presiden (presidential threshold) diturunkan menjadi 10 persen. Pasalnya, PKS menyatakan ketentuan ambang batas yang berlaku sekarang membuat mereka merasa bakal kewalahan di pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

    Perlu diketahui, pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum menjelaskan, “Pasangan calon (Paslon) yang diusulkan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik Peserta Pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25 persen dari suara sah secara nasional pada Pemilu anggota DPR sebelumnya”.

    “Sayangnya dengan tidak adanya revisi UU Pemilu, maka kami agak kerepotan. Jadi PKS berharap Presidential Threshold itu 10 persen saja,” ujar Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera dalam diskusi virtual, Sabtu (8/5/21), seperti dilansir CNN Indonesia.

    Mardani menilai pemangkasan ambang batas presiden akan membuat pilihan Capres mendatang lebih beragam. Ia menyebut semakin banyak pilihan akan semakin bagus untuk kontestasi karya dan gagasan, bukan perpecahan.

    “Kalau hanya ada dua pasangan maka peluang divided lebih besar. Untuk itu, kita perlu menyelesaikan masalah ini,” terang Mardani.

    “Yang kami inginkan suksesi nanti adalah kontestasi karya dan gagasan, bukan pertarungan, sehingga hal ini yang harus diatur,” sambungnya.

    Akan tetapi, Mardani mengklaim bahwa PKS sudah menyiapkan strategi untuk menghadapi Pilpres 2024. Ia memaparkan, strategi pertama yakni penokohan. Ia menganggap masyarakat Indonesia kebanyakan memperhatikan penokohan ketimbang Visi Misi dari suatu partai.

    “Misi program partai memang penting, namun dengan tingkat sekolah rata-rata 7 tahun, ambil lah SMP kelas 1, maka sangat susah mendiskusikan sesuatu yang strategis, yang ada hanya tokoh-tokoh,” ulas Mardani.

    Ia melanjutkan, strategi kedua adalah narasi. Ia mengatakan untuk Pilpres 2024 harus ada Capres yang menawarkan narasi yang bagus untuk Indonesia.

    “Kita memerlukan Capres yang merevisi sistem politik kita yang cenderung politik dinasti, dan demokrasi yang sakit,” tegasnya.

    Selain itu, Mardani mengaku PKS akan memaksimalkan penggunaan teknologi dan big data untuk pemetaan pemilih pada 2024 mendatang. Menurutnya, strategi tersebut terinspirasi dari Pilpres di Amerika Serikat tahun 2016 saat Donald Trump bersaing dengan Hillary Clinton.

  • Sindir Aksi Marah Jokowi, PKS: Menterinya Dablek atau Presidennya ‘Omdo’ dan Penakut!

    Sindir Aksi Marah Jokowi, PKS: Menterinya Dablek atau Presidennya ‘Omdo’ dan Penakut!

    TIKTAK.ID – Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS), Mardani Ali Sera menyindir Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang kembali mengatakan belum melihat aura krisis dalam penanganan pandemi virus Corona (Covid-19) di kementerian atau lembaga.

    Ia menilai pernyataan Jokowi itu menunjukkan bahwa dirinya tak memiliki kekuasaan atau tak mau menggunakan kekuasaan yang dimilikinya, alias penakut.

    Baca juga: Hasil Survey Kembali Nobatkan Prabowo ‘Menteri Terbaik’ Jokowi

    “Ini marahnya berkali-kali. Artinya bisa disimpulkan bahwa Presiden tidak punya kekuasaan atau tidak mau menggunakan kuasanya, alias takut,” ujar Mardani, seperti dilansir CNNIndonesia.com, Selasa (4/8/20).

    Mardani menyebut Jokowi yang kembali menyindir kinerja menteri di hadapan publik juga memperlihatkan para menteri Kabinet Indonesia Maju itu berani mengabaikan permintaannya. Ia menyatakan para menteri tak menjalankan arahan Jokowi bisa saja karena yakin dirinya tak akan dicopot.

    Baca juga: Partai Prabowo Siap Dukung Menantu Jokowi di Pilkada Medan, Asal Syarat ini Dipenuhi

    “Kalau sudah tiga kali marahnya, artinya ada dua. Satu, menteri dablek dan berani karena yakin posisinya tidak diganggu gugat atau presidennya yang penakut. Cuma marah, saya menyebutnya omdo (atau) omong doang,” ucap Mardani.

    Halaman selanjutnya…