Tag: Edy Rahmayadi

  • KPK Peringatkan Edy Rahmayadi Soal Korupsi: Pak Jangan Sampai Hattrick!

    KPK Peringatkan Edy Rahmayadi Soal Korupsi: Pak Jangan Sampai Hattrick!

    TIKTAK.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengingatkan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi, agar tidak meniru dua pendahulunya yang tersangkut persoalan hukum. Untuk diketahui, dua gubernur Sumatera Utara sebelumnya yang tersandung masalah hukum dan dijerat KPK adalah Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho.

    “Menjadi pelajaran bagi Sumut, karena terdapat dua Kepala Daerah (Gubernur) yang berturut-turut ditindak oleh KPK. Pak, jangan sampai hattrick (tiga kali berturut-turut),” ujar Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata, dalam acara pencanangan Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani di Aula Tengku Rizal Nurdin, di Medan, Selasa (22/2/22), seperti dilansir CNN Indonesia.

    Marwata pun berharap peristiwa Arifin dan Nugroho bisa menjadi pelajaran.

    Baca juga : 5 Poin Penting Soal Pengaturan Pengeras Suara Masjid di Surat Edaran Menag Yaqut

    Sekadar informasi, kegiatan ini diikuti oleh seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di jajaran Pemprov Sumut. Dalam acara tersebut, Alexander mengapresiasi langkah yang dilakukan Edy Rahmayadi untuk menjadikan Pemprov Sumut sebagai pemerintahan bebas korupsi, birokrasi bersih dan melayani.

    Kemudian Marwata menyatakan bahwa perkembangan teknologi membuat pelayanan juga menerapkan sistem elektronik. Dia juga memperingatkan untuk tidak membatasi diri dengan rakyat, karena rakyatlah yang membayar gaji mereka.

    “Saya senang Pemprov Sumut dapat mencanangkan zona integritas. Pembangunan zona integritas, bukan saja tugas Bapak dan Ibu, melainkan masyarakat. Oleh sebab itu, masyarakat juga diajak, kita didik, supaya berintegritas juga,” sambung Marwata.

    Baca juga : PAN Minta Menteri Jokowi Mundur jika Jabat Kepala Otorita IKN

    Marwata menegaskan bahwa Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) tidak akan terwujud jika tidak ada komitmen dari pemimpin.

    “Bila ingin menuju WBK/WBBM, bersikap melayani tidak akan pernah terbit kalau tidak mampu komitmen bersama, yakni seluruh jajaran Pemprov Sumatera Utara. Bapak Gubernur sebagai komandan, harapan kami di KPK, ini yang selalu saya sampaikan, komitmen harus dari pimpinan,” tegas Marwata.

    “Langkah awal adalah komitmen apa pun itu dari pucuk pimpinan. Jika dari pucuk pimpinan tidak ada komitmen, maka rasa-rasanya sulit bagi kita untuk mewujudkan,” imbuh Marwata.

    Baca juga : Sesalkan Pagelaran Wayang Gus Miftah, MUI: Ini Dakwah yang Kontraproduktif

    Lantas Marwata berharap Sumut bisa bebas korupsi, bersih, dan melayani. Dia juga yakin Edy berkomitmen mewujudkan hal itu.

  • Edy Rahmayadi Curhat ke Jokowi soal ‘Pelitnya’ Sri Mulyani

    Edy Rahmayadi Curhat ke Jokowi soal ‘Pelitnya’ Sri Mulyani

    TIKTAK.ID – Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi diketahui curhat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenai sulitnya Menteri Keuangan Sri Mulyani mengalokasikan anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pembangunan Jalan Tol Binjai-Langsa Seksi I Binjai-Stabat. Edy menyampaikan hal itu melalui acara peresmian jalan tol tersebut yang dihadiri oleh Jokowi.

    “Saya tidak tahu, Ibu Sri Mulyani begitu sulit menganggarkan, dan kami mendengar itu berkali-kali. Termasuk Pak Basuki yang selalu membahas ini,” ungkap Edy dalam pidato acara peresmian Jalan Tol Binjai-Stabat, Kabupaten Langkat yang disiarkan lewat YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (4/2/22), seperti dilansir CNN Indonesia.

    Meski begitu, Edy mengucapkan terima kasih atas dukungan Pemerintah Pusat, sehingga proses pembangunan jalan bebas hambatan di Sumatera Utara dapat selesai. Dia pun meyakini bahwa tol tersebut mampu mempercepat waktu tempuh dari Medan ke Stabat.

    Baca juga : Soal Ide Duet Prabowo-Cak Imin, Gerindra Sulsel: Kami Tunduk dan Patuh

    “Stabat yang pastinya dari Medan ke Stabat 2,5 jam, tapi sekarang ini menjadi 45 menit. Kemudian rakyat Langkat- Stabat untuk menuju Kualanamu, 2,5 sampai tiga jam, saat ini dengan ini diberlakukan kami hanya tinggal satu jam,” ucap Edy.

    Sri Mulyani sendiri ikut hadir dalam acara itu. Dia menyaksikan penandatanganan Letter of Commitment (LoC) yang menandakan bentuk komitmen para penerima Penyertaan Modal Negara (PMN) atau investasi Pemerintah melalui Lembaga Manajemen Aset (LMAN) bisa digunakan sesuai indikator kinerja.

    Sebelumnya, Sri Mulyani pernah mengakui kalau dirinya memang kerap dianggap pelit oleh sejumlah menteri. Dia mengatakan kerap menerima keluhan dari menteri-menteri lain yang merasa anggaran Kementerian/Lembaga (K/L) masih kurang dan minta untuk terus ditambah.

    Baca juga : Ainun Najib, Kader NU yang Pernah Kritik Keras Jokowi Soal Pandemi

    Padahal, Sri Mulyani menyatakan dalam pengalokasian anggaran belanja tiap K/L, dirinya telah memperhitungkan dengan saksama.

    “Kalau lagi sidang Kabinet, tapi enggak di depan Presiden, biasanya waktu makan siang, setiap menteri selalu bilang kurang anggarannya, minta ditambah. Padahal sebagian besar sudah didelegasikan ke daerah, padahal sebaiknya jangan bertumpuk-tumpuk kalau ada programnya di daerah,” ucap Sri Mulyani di Hotel Sahid, Jakarta, mengutip Okezone.com.

  • Silang Pendapat Kian ‘Panas’ Gubernur Sumut vs Mantu Jokowi

    Silang Pendapat Kian ‘Panas’ Gubernur Sumut vs Mantu Jokowi

    TIKTAK.ID – Belakangan ini, publik dihebohkan dengan adanya silang pendapat antara Gubernur Sumatra Utara (Sumut), Edy Rahmayadi dan Wali Kota Medan, Bobby Nasution. Silang pendapat tersebut mengenai lokasi karantina WNI dari luar negeri.

    Awalnya, Bobby memprotes Edy yang tidak berkoordinasi dengannya terkait lokasi karantina WNI yang baru tiba dari luar negeri di Medan. Untuk diketahui, lokasi karantina tersebar di lima hotel dan beberapa kantor milik Pemprov Sumut yang ada di Medan.

    “Ini karantina adanya di Medan dibuat, memang WNA (Warga Negara Asing) di Deli Serdang dekat bandara. Kemudian di Medan ada beberapa hotel dan beberapa kantor dinas lah kita bilang milik provinsi, bukan Kota Medan. Karena ini wilayahnya provinsi, namun kami meminta agar Kota Medan diberi informasi lebih lanjut,” ujar menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut, Rabu (5/5/21), seperti dilansir CNBC Indonesia.

    “Sebab, seperti keluar hotel, begitu ada keluarganya yang datang. Sedangkan pasukan yang ada di sana tidak paham. Harusnya Kota Medan diinformasikan agar penambahan pasukan di sana, entah dari BPBD kita, Satpol PP kita, itu akan membantu provinsi Sumut menambah personel. Hotelnya sampai hari ini ada lima hotel,” sambung Bobby.

    Bobby mengklaim tidak mengetahui hotel dan kantor dinas mana saja yang dijadikan lokasi karantina. Oleh sebab itu, ia meminta lokasi tersebut diinformasikan, sehingga masyarakat bisa waspada, terutama yang menginap di hotel.

    “Masyarakat harus tahu, supaya masyarakat yang menginap di situ terinformasikan. Jangan pula dibilang sahur bersama-sama berkumpul di situ. Tapi saya tanya kemarin ke provinsi, kita mengajukan protokol kesehatan sangat ketat sama provinsi,” tegas Bobby.

    Menanggapi hal itu, Edy Rahmayadi tampak geram terhadap Bobby. Menurut Edy, Bobby terlalu mengada-ada.

    Padahal, kata Edy, baik Satgas Covid-19 Sumut maupun Satgas Covid-19 Kota Medan merupakan tim yang sejak setahun terakhir selalu berkoordinasi, sama-sama bertugas dalam memutus mata rantai penyebaran virus Corona di wilayah Sumut.

    Jadi, kata Edy, dia menganggap ketidaktahuan Bobby tersebut tidak mendasar sama sekali.

    “Tanya sama dia (Bobby) dilibatkan atau tidak? Itu kan team work, satu tim. Salah besar berarti dia,” tegas mantan Pangkostrad itu.

    Menurut Edy, penanganan virus Corona di Sumut merupakan tugas semua elemen Kepala Daerah.

    Bukan menjadi kewenangan masing-masing Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Kota, termasuk dirinya, selaku Gubernur Sumut dan Kasatgas Covid-19 Sumut.

    “Bukan tidak dilibatkan. Ini kan satu tim, kerjaan bukan sendiri-sendiri. Tim,” ucapnya.

    Bila Bobby tetap mengaku tidak tahu akan hal tersebut, maka Edy menyarankan agar menantu Jokowi itu menanyakan langsung kepada Tuhan.

    “Kalau tidak tahu, tanya Tuhan Yang Mahatahu,” sindir Edy usai salat zuhur berjemaah di Masjid Rumah Dinas Gubernur, Jalan Sudirman Medan.

    “Ada yang teriak-teriak di medsos atau di apa itu, Wali Kota tidak tahu. Lho, memang Tuhan Mahatahu. Tapi kalau orang satu-satu minta diberi tahu, tambah mundur dia. Hai manusia, bertakwalah kamu, kata Tuhan. Namun (memberi tahu) tidak satu per satu juga, kau harus tahu, kau harus tahu,” terang Edy.