Tag: Batubara

  • Apa Jadinya Jika Jokowi Stop Ekspor Batu Bara RI?

    Apa Jadinya Jika Jokowi Stop Ekspor Batu Bara RI?

    TIKTAK.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) bermaksud menyetop ekspor raw material batu bara. Menurutnya, selama ini komoditas tambang diekspor mentah-mentah sehingga tidak menghasilkan nilai tambah bagi Indonesia.

    “Bauksit, batu bara kita ekspor berapa juta ton, mentahan raw material semuanya,” kata Jokowi saat membuka Musrembang di Istana Negara, awal pekan lalu. Ia ingin komoditas tambang itu diubah dulu menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sebelum diekspor.

    Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menargetkan dalam 3 tahun sudah menghentikan ekspor. Ia mengatakan jika hal itu terlaksana, maka tidak ada defisit transaksi berjalan lagi.

    Baca juga: Jokowi Pilih Nagara Rimba Nusantara, Kang Emil: Bakal Jadi Kota Terkeren se-Indonesia Bahkan Dunia

    Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia, mengatakan Indonesia sebagai eksportir terbesar harus memperhatikan kepentingan negara lain. Ia mencontohkan Malaysia, Vietnam, Jepang, dan Korea sebagai negara sahabat yang menjadi importir batu bara. Impor batu bara itu mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan listrik ke depan.

    “Misal Vietnam 2020 impor batu bara kita, pembangkit listrik itu bisa sampai 20-30 tahun. Dia berharap sampai 2045 bahkan 2050 masih mendapat pasokan ekspor,” ujar Hendra dilansir CNBCIndonesia.com.

    Larangan ekspor itu, lanjut Hendra, semestinya juga mempertimbangkan penerimaan negara dan kepentingan daerah. Pasalnya, bisa jadi ada sebagian daerah yang mengandalkan ekspor batu bara untuk menggerakkan perekonomian.

    Baca juga: Eropa Boikot Sawit RI, Jokowi: Kamu Nggak Beli, Saya Pakai Sendiri

    Namun Hendra memilih bungkam ketika ditanya dampak larangan ekspor pada defisit. Menurutnya, Pemerintah lebih tahu dan sudah punya pertimbangan sendiri.

    Hendra mengaku jika Pemerintah benar-benar sudah menerapkan larangan, sebagai kontraktor pihaknya hanya bisa mengikuti kewenangan tersebut. Meski Pemerintah belum memastikan kapan larangan tersebut akan dimulai, namun Hendra memperkirakan maksud Pemerintah melarang ekspor batu bara berlandaskan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

    Di dalam RUEN, disebutkan ekspor batu bara akan dikurangi secara bertahap paling lambat pada 2046. Pada 2046, Hendra menyatakan kebutuhan batu bara domestik akan maksimal, sehingga sesuai RUEN batu bara diprioritaskan untuk modal pembangunan. Maka ekspor tidak diperlukan lagi, seiring dengan peningkatan kebutuhan.

  • Diancam Uni Eropa Terkait Ekspor Nikel, Jokowi Pantang Mundur, Kejagung Siap Bela

    Diancam Uni Eropa Terkait Ekspor Nikel, Jokowi Pantang Mundur, Kejagung Siap Bela

    TIKTAK.ID – Presiden Joko Widodo mengaku tidak takut atas gugatan yang diajukan Uni Eropa ke WTO terkait larangan ekspor bijih nikel mulai 1 Januari 2020.

    Jokowi mengatakan bahwa Pemerintah siap menerima gugatan tersebut.

    “Kita ini digugat oleh WTO, nggak pa-apa kita hadapi. Kalau ada yang gugat nggak papa. Jangan kita di gugat jadi grogi,” kata Jokowi kala melepas ekspor Isuzu Traga di Plant Karawang Isuzu, Karawang, Jawa Barat, Kamis (12/12/19). 

    Lebih lanjut, Jokowi akan menyiapkan pengacara terbaik dalam menghadapi gugatan tersebut.

    Baca juga: Uni Eropa: Masuk ke Wilayah Schengen Tidak Harus dari Negara Tempat Pengajuan Visa

    “Apapun yang diprotes akan kita hadapi, nggak perlu ragu. Baru kemarin kita rapat soal ini. Saya bilang hadapi, siapkan lawyer-lawyer paling baik. Sehingga kita bisa memenangkan gugatan itu. Jangan digugat kita keok, digugat kita keok, itu karena kita nggak serius menghadirkan lawyer-lawyer yang terbaik,” imbuh Jokowi.

    Menurutnya, menerima sebuah gugatan hal yang wajar dalam hidup.

    “Biasalah dalam hidup digugat itu. Jangan sampai baru mau digugat terus mundur. Kalau saya nggak, digugat malah semangat. Tapi ya jangan sampai kalah, semangatnya tinggi digugat kalah, waduuuh,” katanya sembari tersenyum.

    Baca juga: Jadi Juri Acara di Prancis, Anggun Tak Mengira Dirinya Trending di Eropa

    Langkah Jokowi dengan tidak mengizinkan ekspor nikel adalah sebagai cara agar bisa memperoleh nilai tambah dari komoditi tersebut.

    Selama ini Indonesia dalam mengekspor beberapa barang komoditas seperti kelapa sawit yang diekspor dalam bentuk Crude Palm Oil (CPO), batubara yang diekspor mentah dan nikel yang diekspor berupa raw material sehingga tidak mendatangkan nilai tambah sama sekali.

    Oleh karena itu, Jokowi ingin terjadinya hilirisasi industri agar barang yang keluar dari Indonesia dalam bentuk produk setengah jadi atau bahkan barang jadi.

    Baca juga: Polisi Eropa Tutup Server Kelompok ISIS

    “Kita itu ingin bahan-bahan mentah ini mendapat nilai tambah dan nilai tambahnya kalau ada hilirisasi industri. Kalau ada hilirisasi apa yang terjadi? Lapangan pekerjaan yang sebesar-besarnya terbuka larinya nanti kesitu, bukan kemana-mana,” ucap Jokowi.

    Sementara itu, Kejaksaan Agung menyatakan siap mendampingi Jokowi jika Uni Eropa jadi mengajukan gugatan terhadap Pemerintah Indonesia di World Trade Organization atau WTO.

    “Kalau ada gugatan, Kejaksaan akan mendampingi kepentingan Pemerintah,” kata Feri Wibisono, Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara di Jakarta Selatan, pada Jumat (13/12/19).

    Baca juga: Misteri Harga Renault Triber, Low MPV Terbaru Eropa ini Akhirnya Terungkap

    Uni Eropa rencananya akan menggugat Indonesia terkait larangan ekspor bijih nikel mulai 1 Januari 2020. Kendati demikian, Feri mengatakan gugatan tersebut belum dilayangkan Uni Eropa sampai saat ini.

    Feri mengatakan, Kejaksaan Agung akan mengecek apakah gugatan tersebut sudah terdaftar di WTO atau di United Nation Commision on International Trade Law (Uncitral).

    Baca juga: Jaksa yang Penjarakan Ahok Dulu, Jabat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Kini

  • Jawab Isu Tambang Batubara Keluarga Jokowi, Gibran Kenalkan Menu Andalan Ayam Batubara

    Jawab Isu Tambang Batubara Keluarga Jokowi, Gibran Kenalkan Menu Andalan Ayam Batubara

    TIKTAK.ID – Putra Presiden Jokowi Widodo, Gibran Rakabuming Raka terus memperluas bisnis kulinernya. Ia baru saja menguatkan bisnis waralaba atau franchise kuliner di bawah brand Gaaram dengan menu andalannya, Ayam Batubara.

    Gibran setidaknya perlu waktu 3-4 bulan untuk mengembangkan brand Gaaram yang merupakan gabungan dua manajemen, Goola dan Mangkokku.

    Soal Ayam Batubara yang fenomenal, Gibran mengaku nama itu terinspirasi dari banyaknya gosip yang muncul bahwa dia dan keluarganya punya bisnis batubara. Menu berbahan dasar daging ayam dibalut bumbu tertentu hingga berwarna hitam itulah yang kemudian diidentikkan dengan warna batubara.

    Baca juga: Mungkinkah Gibran Putra Jokowi Duet dengan Didit Putra Prabowo?

    Gibran mengajak anak muda saat ini mulai berani mengembangkan usaha. Sebab, dulu ia menjadi yang paling muda dalam menjalankan bisnis, kini sudah 10 tahun dan kondisinya sudah berbeda jauh. Ia pun mendukung sang adik, Kaesang Pangarep agar lebih sukses dari dirinya dalam membangun usaha.

    “Muda itu tidak hanya bercerita tentang umur saja, namun juga cara berpikir dalam berkreasi, berinovasi, dan bergerak untuk terus maju,” kata Gibran.

    Baca juga: Siap Bantu Pulangkan Habib Rizieq, Prabowo Akan Segera Temui Jokowi

    Isu bisnis batubara keluarga Jokowi makin mencuat beberapa bulan lalu, berbarengan dengan rilis film Sexy Killer produksi Watchdoc yang bercerita tentang energi sebagai salah satu proyek strategis nasional. Dalam film itu muncul nama PT Rakabu Sejahtera, perusahaan tambang yang didirikan sendiri oleh Presiden Joko Widodo dan ada nama Kaesang Pangarep sebagai pengelola perusahaan tersebut. Diungkap pula dalam film yang sama bahwa sebagian saham lainnya dimiliki Luhut Binsar Pandjaitan melalui perusahaan tambang PT Toba Sejahtera.

    Baca juga: Inikah Penyebab Susi ‘Ditenggelamkan’ Jokowi?