Tag: pejabat Saudi

  • Ngeri! Pejabat Saudi Ancam Bunuh Penyelidik Independen PBB dalam Kasus Kematian Jamal Khashoggi

    Ngeri! Pejabat Saudi Ancam Bunuh Penyelidik Independen PBB dalam Kasus Kematian Jamal Khashoggi

    TIKTAK.ID – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengonfirmasi bahwa seorang pejabat Arab Saudi melontarkan ancaman pembunuhan terhadap seorang ahli independen penyelidik kasus kematian Jamal Khashoggi.

    Juru Bicara urusan HAM PBB, Rupert Colville mengonfirmasi langsung ancaman terhadap Agnes Callamard yang pertama kali diungkap The Guardian ini.

    “Kami mengonfirmasi bahwa detail berita Guardian mengenai ancaman terhadap Agnes Callamard memang akurat,” ujar Colville kepada Reuters, Rabu (24/3/21).

    Callamard mengatakan kepada The Guardian bahwa ia mengetahui ancaman itu dari temannya. Menurut rekannya, ancaman itu terlontar saat pertemuan antara delegasi Saudi dengan pejabat PBB di Jenewa, Swiss.

    Dalam pertemuan itu, para pejabat Riyadh mengkritik hasil temuan Callamard mengenai kasus Khashoggi yang menyatakan bahwa Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS), bertanggung jawab atas pembunuhan wartawan The Washington Post tersebut.

    Setelah itu, seorang pejabat senior Saudi terdengar berkata kepada orang di sekitarnya untuk bersiap “mengurus dia [Callamard]”.

    “Ancaman pembunuhan. Mereka memahami itu sebagai ancaman pembunuhan. Orang-orang yang hadir menegaskan kepada delegasi Saudi bahwa pernyataan itu benar-benar tidak pantas,” tutur Callamard.

    Hasil temuan Callamard sendiri sama dengan laporan intelijen AS yang menyatakan bahwa MbS merestui pembunuhan Khashoggi.

    Khashoggi merupakan seorang kolumnis Washington Post yang kerap mengkritik Putra Mahkota. Ia dinyatakan tewas di dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada Oktober 2018 setelah sempat dinyatakan hilang.

    Pelapor khusus PBB menyimpulkan Saudi “melakukan eksekusi yang disengaja dan direncanakan sebelumnya” terhadap Khashoggi.

    Meski sempat membantah, Saudi akhirnya mengakui bahwa Khashoggi tewas di dalam gedung konsulatnya. Namun, Riyadh berkeras bahwa Kerajaan tak terlibat pembunuhan jurnalis itu. Mereka menegaskan bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh pejabat Saudi dengan “perintah gelap”.

  • Jaksa Turki Siapkan Dakwaan Kedua terhadap 6 Pejabat Saudi untuk Kasus Pembunuhan Khashoggi

    Jaksa Turki Siapkan Dakwaan Kedua terhadap 6 Pejabat Saudi untuk Kasus Pembunuhan Khashoggi

    TIKTAK.ID – Jaksa Turki telah menyiapkan dakwaan kedua terhadap enam pejabat Saudi sehubungan dengan pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi tahun 2018 di Istanbul, kata penyiar NTV dan media lain pada Senin (28/9/20).

    Laporan tersebut tidak menyebutkan apakah enam tersangka termasuk di antara mereka yang sudah diadili secara in absentia di pengadilan Istanbul atas pembunuhan Khashoggi, tulis Reuters.

    Kantor berita milik negara, Anadolu mengatakan bahwa dua dari tersangka menghadapi dakwaan dengan hukuman penjara seumur hidup, sementara dakwaan terhadap empat lainnya dikenakan hukuman hingga lima tahun penjara.

    Menurut dakwaan, dua orang yang mendapat dakwaan hukuman penjara seumur hidup adalah anggota staf Konsulat dan merupakan bagian dari tim yang meninggalkan Turki setelah melakukan pembunuhan terhadap jurnalis Saudi tersebut, Anadolu melaporkan.

    Sementara empat tersangka lainnya dilaporkan dituduh merusak barang bukti karena pergi ke TKP segera setelah pembunuhan itu. Mereka juga tidak berada di Turki.

    Dalam kasus terpisah yang diluncurkan pada Juli lalu, pengadilan Istanbul mulai mengadili secara in absentia 20 warga Saudi lainnya atas pembunuhan itu, termasuk dua mantan asisten MBS.

    Jaksa Turki mengklaim Wakil Kepala Intelijen Saudi, Ahmed al-Assiri dan Penasihat Media Pengadilan Kerajaan, Saud al-Qahtani memimpin operasi tersebut dan memberi perintah kepada tim pembunuh Arab Saudi.

    Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan perintah untuk membunuh Khashoggi datang dari “tingkat tertinggi” Pemerintah Saudi tetapi tidak pernah secara langsung menyalahkan MBS. Putra Mahkota Arab Saudi membantah memerintahkan pembunuhan itu, tetapi mengatakan pada akhirnya dia memikul “tanggung jawab penuh” sebagai pemimpin de facto Kerajaan.

    Kantor Kejaksaan Istanbul menolak untuk memberikan komentar langsung atas laporan media tersebut.

    Pengadilan Saudi yang dilaksanakan tertutup pada bulan ini memenjarakan delapan orang antara tujuh dan 20 tahun atas pembunuhan itu. Namun hukuman itu diubah menjadi empat bulan setelah keluarga Khashoggi memaafkan para pembunuhnya dan mengesampingkan hukuman mati yang diputuskan sebelumnya.

    Khashoggi, merupakan seorang kritikus Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman (MbS) paling tajam. Dia terlihat terakhir kali di Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018. Ketika itu dia ke Kedutaan untuk mendapatkan dokumen pernikahannya yang akan datang.

    Mayatnya dilaporkan dipotong-potong dan dipindahkan dari gedung dan jenazahnya belum ditemukan.

  • Tunangan Khashoggi Berharap Persidangan Bawa Titik Terang

    Tunangan Khashoggi Berharap Persidangan Bawa Titik Terang

    TIKTAK.ID – Pengadilan Turki akan memulai persidangan kasus pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi pada Jumat besok dengan mengajukan 20 pejabat Saudi sebagai terdakwanya.

    Dengan mulai dibukanya pengadilan terkait pembunuhan Khashoggi ini, tunangannya, Hatice Cengiz berharap akan ada titik terang yang menjelaskan kematian Khashoggi dan mengungkap lokasi di mana tubuhnya disembunyikan.

    “Saya harap kasus kriminal ini di Turki mengungkap keberadaan tubuh Jamal (dan) bukti terhadap para pembunuh,” kata Cengiz, yang sedang menunggunya di luar Konsulat pada hari pembunuhannya, kepada Reuters.

    Khashoggi terakhir kali terlihat memasuki Konsulat Saudi untuk mengurus beberapa dokumen sebagai syarat pernikahan yang akan dilakukan dengan Cengiz pada 2018. Pejabat Turki mengatakan mayatnya dipotong-potong dan dikeluarkan dari gedung. Hingga kini jasadnya belum juga ditemukan.

    Dalam dakwaannya, Jaksa Istanbul menuduh mantan Wakil Kepala Intelijen Umum Arab Saudi, Ahmed al-Asiri, dan mantan Penasihat Pengadilan Kerajaan Saudi, al-Qahtani karena menghasut “pembunuhan berencana yang mengerikan itu”, kata kantor Kejaksaan pada Maret lalu.

    Selain 20 orang terdakwa, masih ada 18 terdakwa lain yang didakwa terlibat mencekik Khashoggi, tokoh yang dikenal sangat kritis kepada penguasa de facto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

    Pada pengadilan Jumat besok, 20 terdakwa rencananya akan diadili secara in absentia.

    Pembunuhan Khashoggi di Konsulat Saudi di Istanbul pada Oktober 2018 memicu kecaman besar-besaran dari dunia internasional. Kejahatan itu merusak hubungan antara Ankara dan Riyadh, mencoreng citra internasional sang Pangeran. Sejumlah Pemerintah Barat, serta CIA mengatakan mereka yakin pembunuhan itu atas perintah Mohammed bin Salman, namun semua tuduhan itu disangkal pejabat Saudi.

    Duta Besar Arab Saudi untuk PBB, Abdullah Mouallimi mengatakan Turki tak bekerja sama dengan Saudi untuk melakukan penyelidikan pembunuhan itu. Dia mengaku beberapa kali meminta Ankara berbagi bukti penyelidikan dengan Saudi, namun tak mendapat tanggapan.

    Sebelumnya pada akhir tahun lalu, pengadilan Saudi menjatuhkan hukuman mati kepada lima orang dan tiga penjaga penjara karena divonis terlibat pembunuhan Khashoggi, sayangnya pengadilan itu bersifat rahasia.

    Selanjutnya, keluarga Kashoggi mengatakan memaafkan para pembunuhnya. Hal itu membuka jalan penangguhan resmi kepada para terpidana.

    Namun, Cengiz memiliki pandangan berbeda. Dia mengatakan persidangan maupun pengampunan yang sebelumnya terjadi tidak mengikuti proses yang benar.

    “Tidak ada yang bisa mengikuti ‘persidangan’ yang terjadi di Arab Saudi secara sah; hal itu dilakukan secara rahasia dan orang-orang yang dihukum tidak disebutkan namanya,” kata Cengiz.

    Ankara dan Riyadh saling lempar tuduhan. Turki menuduh pejabat Saudi menghalangi penyelidikan, sementara Saudi berulang kali mengatakan bahwa jaksa Istanbul belum memenuhi permintaan untuk berbagi informasi.

    Pangeran Mohammed telah membantah memerintahkan pembunuhan itu tetapi mengatakan dia memikul tanggung jawab utama sebagai Pemimpin Kerajaan secara de facto.

    Arab Saudi awalnya membantah keterlibatan atau mengetahui tentang kematian Khashoggi, namun kemudian mereka mengubah posisinya beberapa kali.